Ormas Radikal dan Reaksi Masyarakat

Ormas Radikal dan Reaksi Masyarakat

Sebelum kita menyebut Radikal alangkah baiknya kita memahami dahulu apa itu Radikal, sehingga kita bisa berkomentar terhadap sesuatu tentang arti Radikal tersebut.Menurut bahasa radikalisme berasal dari bahasa latin radix, radicis yang berarti akar dan radicula, radiculae yang artinya akar kecil. Berbagai makna radikalisme itu mengacu pada kata akar atau mengakar. Dalam kamus besar bahasa indonesia radikal diartikan sebagai secara menyeluruh, habis habisan, amat keras menuntut perubahandan maju berpikir atau bertindak.

Menurut istilah radikalisme memiliki berbagai pengertian tergantung aspek sudut pandangnya, dalam sudut pandang keagamaan mengandung makna paham keagamaan yang mengacu pada fondasi agama yang sangat mendasar, fanatik keagamaan cukup tinggi dan sering kali mengggunakan kekerasan dalam aktualisasi paham keagamaan yang di anut dan di yakininya. Para kelompok radikalisame menginginkan adanya perubahan atau pembaharuan sosial keagamaan secara mendasar dengan sistem atau tata nilai baru yang diyakininya. Tidak hanya bersifat wacana atau pemikiran pada batas batas tertentu paham ini dapat menjelma dalam bentuk gerakan atau aksi di lapangan.

Radikalisme muncul dalam bentuk aksi penolakan, perlawanan dan keinginan dari kelompok tertentu agar lingkungan, daerah bahkan suatu negara diubah, ditata sesuai dengan doktrin agama dan pemahamanya. Bentuk aksi berupa fikrah (pemikiran) dan harakat ( gerakan) Islam mutakhir luar negeri yang masuk ke Indonesia dalam kurun waktu dasawarsa terakhir ( masa reformasi) gerakan yang muncul dan terbentuk dari situasi politik timur tengah dan anti Barat, ketertindasan Islam di daerah konflik timur tengah cukup mendorong untuk membentuk pemerintahan yang bersyari’at Islam dengan skala nasional dan Internasional.

Fenomena aksi FPI dan HTI

Pemikiran politik yang menggambarkan ideologi Islam bertujuan membentuk kembali khilafah Islam atau negara Islam, serta melakukan aksi- aksi di jalan  menyerukan rekonstruksi sosial dan moralitas dengan berdasarkan pada seruan kembali kepada Al-Qur’an dan Hadis. Sistem Demokrasi adalah buatan manusia menetapkan kedaulatan milik rakyat sehingga rakyat yang memiliki hak menetapkan hukum dan syariat, konstitusi, undang – undang. Sementara hukum Islam berdiri diatas asas akidah Islamiyah dan berdasarkan hukum syara ( Syariat Islam).

Kegiatan ditengah masyarakat berupa dakwah ( pemahaman ideologi), aksi dijalan ( unjuk rasa ), aksi yang bersifat tindakan main hakim sendiri ( Sweping) yang berorientasi pada syariat Islam, khilafah , penegakan Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar menjadi perhatian pemerintah dalam hal ini aparat keamanan (Polri / TNI).

Mengurai Masalah HTI

Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) merupakan bagian dari jaringan internasional dimana organisasi ini sudah tersebar di beberapa negara, kelompok yang didirikan pada tahun 1953 di Jerusalem pendirinya adalah Taqiyuddin An-Nabhani bersama para koleganya yang merupakan sempalan dari organisasi Ikhwanul Muslimin yang berpusat di Mesir. Sistem keanggotaan merupakan ciri khas dari organisasi ini untuk mencapai tujuannya para pemimpin organisasi ini mengambil bahan ideologis, modus penyebaran dilakukan terlebih dahulu, sosialisasi melalui pembait’atan (indoktrinasi).Kepada masyarakat umum.

Mereka mengganggap kaum muslimin saat ini hidup dalam alam darul kufur ( negeri kafir) hanya karena diterapkannya hukum hukum Negara yang tidak berdasarkan hukum Islam, kondisi ini mereka rumuskan dengan cara menganalogikan dengan periode kejayaan Islam ( Kilafah Islamiyah ), sebagai contoh Negara Indonesia, mereka menganggap UUD 45 dan Pancasila sebagai bagian dari Undang Undang yang Kufur yang dibuat oleh manusia dan tidak khafah yang berlandaskan syariat Islam.

Penolakan organisasi HTI

Di Semarang, polisi membubarkan kegiatan Forum Khilafah Indonesia yang digagas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di Hotel Grasia Semarang dengan pertimbangan keamanan dan ketertiban. Kapolrestabes Semarang Komisaris Besar Abiyoso Seno Aji mengatakan kegiatan itu mendapat penolakan sejumlah organisasi keagamaan.(Beritagar.id 11 April 2017).

Beberapa elemen bangsa mulai menolak kehadiran HATI dan FPI Sebut saja GP Ansor ( Banser NU), organisasi sayap NU ini mencurigai Hizbut Tahrir memang mempunyai agenda terselubung. Di Surabaya, Yogyakarta, Kami menolak kegiatan serupa, ‘Masirah Panji Rasulullah’ yang rencananya diselenggarakan oleh HTI di Masjid Agung Manunggal Bantul, Yogyakarta (9/4) yang bertema Khilafah Kewajiban Syar’i Jalan Kebangkitan Umat,”

Mengurai masalah FPI

Penegakan amar makruf nahi mungkar, mengkritisi kebijakan pemerintah yang dianggap bertentangan dengan akidah ( Keyakinan) Islam menjadi ciri khas Front Pembela Islam (FPI) dalam setiap aksi pengerahan massa. Aksi ini tak jarang terjadi tindakan anarkis dan adanya bentrok baik itu dengan aparat atau dengan kelompok masyarakat.

Kepengurusan Ormas FPI didalamnya terdapat para ulama dan habaib yang tentunya sudah memiliki pengetahuan tentang mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, aturan-aturan itu dituangkan kedalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga AD/ART.  Dalam hal ini menurut FPI AD/ART mereka telah sesuai dengan aturan Amar Makruf Nahi Munkar dalam koridor Islam, dan tak bertentangan dengan undang-undang Republik Indonesia yang berlaku di negeri ini, dan itulah sebabnya kenapa FPI terdaftar secara resmi di Kementrian Dalam Negeri RI.

Organisasi masyarakat yang berbasis pada gerakan massa dalam jumlah besar. Maka ketika terjadi insiden ( Sweping) terkait masalah tindakan anarkis yang terkesan main hakim sendiri, menutup dengan paksa lokasi yang dianggap melanggar undang – undang seperti lokalisasi, tempat penjualan miras dll.

Penolakan Ormas FPI

Di Semarang, polisi membubarkan kegiatan Forum Khilafah Indonesia yang digagas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di Hotel Grasia Semarang dengan pertimbangan keamanan dan ketertiban. Kapolrestabes Semarang Komisaris Besar Abiyoso Seno Aji mengatakan kegiatan itu mendapat penolakan sejumlah organisasi keagamaan.(Beritagar.id 11 April 2017)

Beberapa elemen bangsa mulai menolak kehadiran HATI dan FPI Sebut saja GP Ansor ( Banser NU), organisasi sayap NU ini mencurigai Hizbut Tahrir memang mempunyai agenda terselubung. Di Surabaya, Yogyakarta, Kami menolak kegiatan serupa, ‘Masirah Panji Rasulullah’ yang rencananya diselenggarakan oleh HTI di Masjid Agung Manunggal Bantul, Yogyakarta (9/4) yang bertema Khilafah Kewajiban Syar’i Jalan Kebangkitan Umat,”

Kesimpulan

Dengan fakta-fakta dan penolakan ini kiranya pemerintah perlu segera bersikap secara bijak tentang fenomena organisasi atau kelompok yang dapat memecah belah negara dan bangsa sebab masyarakat kita adalah masyarakat yang plural dan majemuk. Bukan hanya terdiri dari satu agama, satu suku, namun terdiri dari ribuan suku bangsa dan kepercayaan.

Kita tidak ingin bangsa ini terpecah lantaran SARA, isu primordial dan sektarian. Bangsa ini adalah warisan para pahlawan yang sudah mengorbankan jiwa dan raganya demi kemerdekaan dari penjajahan.

*) Bambang Suharyanto.

Subscribe

independen dan terpercaya

No Responses

Comments are closed.