Radikalisme Gaya Baru Ancaman Bagi Indonesia

Radikalisme Gaya Baru Ancaman Bagi Indonesia

Jakarta, Dewan Pimpinan Pusat Taruna Merah Putih menggelar diskusi publik bertemakan Radikalisme gaya baru ancaman bagi ke Indonesiaan pada Kamis (10/8), diikuti sekitar 50 peserta itu digelar ditengah ancaman radikalisme dan untuk menguatkan nilai-nilai kebangsaan dan kebhinekaan.

Beberapa pemateri yang dihadirkan di Kantor DPP Taruna Merah Putih Jl. Teuku Cik Ditiro No. 10 Menteng Jakarta Pusat diantaranya dari unsur Polri AKBP H. Djoni Djuhana selaku Kabid Pencegahan Teror Densus 88 Polri, Ustad Sofyan Tsauri selaku pengamat Terorisme, Addin Jauharuddin mewakili PB PMII yang juga Ketum PB PMII periode 2011-2014 serta dan Dajuhari Aswari mewakili Bhaitul Muslimin Indonesia.

Kabid Pencegahan Teror Densus 88 Polri mengungkapkan Deradikalisasi itu ditunjukan kepada orang orang atau suatu kelompok yang sudah terpapar oleh sifat yang Radikal dan Sebagian sikap Radikalisme dipengaruhi juga oleh adanya kejadian kejadian Global seperti perang yang terjadi di timur tengah seperti perang Afghanistan dan ISIS.

“Data yang ada di Polri dan BNPT mengenai jumlah orang yang terkena faham radikal tidak sama. Ada beberapa Faktor yang mempengaruhi adanya gerakan Radikalisme seperti Faktor regional seperti ada suku rohingya di Myanmar yang tertindas maka solidaritas sebagai muslim adalah bersaudara dan wajib dibela. Seperti pengaruh di Filipina terkait ISIS maka pimpinan ISIS Al Baghdadi menyatakan tidak usah jauh-jauh berjihad ke Suriah. Berjihadlah ke negerimu sendiri” ungkap perwira dua melati tersebut.

“Faktor Nasional bukan khusus masalah teroris saja, terkait bapak Ahok itu merupakan stimulan. HTI bukan organisasi yang baru, ke depan pengaruh nasional menjelang 2019 konflik kepentingan bukan semakin adem. Momen apapun dengan kelompok anti Pancasila akan dihembuskan terus termasuk isu PKI terhadap Bapak Presiden kita. Kelompok anti  pancasila sekali langkah lagi akan menjadi radikal” ujar Perwira Polri yang sehari-hari bertugas di bagian teror ini.

Ciri-ciri kelompok radikal di Indonesia adalah intoleran, fanatisme, eksklusif merasa paling terbaik, revolusioner. HTI dan sebagainya sudah termasuk pada ciri yang saya sebutkan tadi selangkah lagi akan melakukan revolusioner. Pimpinan kita sangat tepat sekali membuat kebijakan itu. Strategi pencegahan kita ada 3 (tiga) yaitu Pencegahan sendiri, deradikalisasi, pencegahan hukum. Fungsi pencegahan yaitu fungsi kontra radikal, kontra narasi, preventif yustisi, ujarnya pula.

Lain halnya pengamat terorisme Ustad Sofyan Sauri mengungkapan bahwa “Reformasi kita ini adalah Reformasi yang sudah kebablasan sehingga masing masing berpikir bahwa dirinya sendiri bisa melakukan apapun. Kejahatan Radikalisme sekarang menyasar kepada TNI dan POLRI yang mereka katakan Kafir dan menjadi target teror sekarang ini. Terjadinya pembunuhan kepada aparat TNI POLRI sejak 2010 sampai dengan saat ini dilakukan oleh kelompok ISIS yang merupakan pecahan dari kelompok Al Qaeda” ungkap mantan anggota Polri yang sekarang menjadi pengamat terorisme ini.

“Jadi saya pikir mulai saat ini kita harus bekerjasama dengan Pemerintah untuk terus melakukan pencegahan pencegahan dan penindakan terhadap kelompok Radikal seperti ini” ungkapnya.

Fenomena gerakan Radikalisme dan Pola Gerakannya di Indonesia jika dilacak sejarah kemunculannya maka akan terbagi kedalam 3 fase yaitu : 1. Generasi awal yang berbeda dalam tafsir teologis. 2. Generasi kedua yang melihat fakta fakta menguatnya Komunisme Soviet dan Imprealisme barat atas negara negara islam. 3. Masuk ke Indonesia menjadi partikel yang satu sama lain tidak bertemu seiring dengan banyaknya faksi faksi kelompok radikal di Timur Tengah, hal ini yang di ungkapkan oleh  Addin Jauharuddin Ketua PB PMII periode 2011-2014.

Mewakili Bhaitul Muslimin Indonesia, Djouhari Aswari “Negara harus berani membuat Payung Hukum/Undang Undang yang kuat mengenai Terorisme ini. Agar mereka yang terlibat Fundamentalisme dan kelompok Radikal seperti itu tidak bisa seenaknya melakukan kejahatan Radikalisme di Indonesia” tandasnya. (nn)

Subscribe

independen dan terpercaya

No Responses

Comments are closed.