Ikatan Alumni Syuradikara Tawarkan Model Kepemimpinan Baru di NTT

Ikatan Alumni Syuradikara Tawarkan Model Kepemimpinan Baru di NTT
Talk show Ikatan Alumni Syuradikara Nusantara (IAS Nusantara) di Aula Universitas Pertahanan, Sentul, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (30/9/2017) lalu. (Foto: FB Ansy Lema)

Sentul, Jawa Barat- WARTANASIONAL.NET– Ikatan Alumni Syuradikara Nusantara (IAS Nusantara) di Jakarta memberikan catatan kritis sekaligus solusi terkait leadership (kepemimpinan ) dalam membangun NTT di masa depan.

Catatan dan gagasan itu mengemuka dalam acara Talk Show  di sela-sela temu kangen alumni yang digelar di Aula Universitas Pertahanan, Sentul, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (30/9/2017) lalu.

Acara temu kangen yang dihadiri sekitar 400 alumni, dan mantan pengajar ini digelar dalam rangka pesta keluarga memperingati HUT SMAK Syuradikara ke-64, yang mengusung tema “Kobarkan Semangat Syuradikara”.

Acara menghadirkan pembicara yang merupakan alumni Syuradikara yaitu Thobias Djaji (Enterpreneur dan Pakar SDM); Pieter Gero (Redaktur Senior Harian Kompas); Dr. Peter Aman, OFM (Dosen STF Driyarkara Jakarta); Kolonel Pas Drs. Agapitus Embu, M.si (Han) (Kabidkerma Pusbangkerma Bainstranas Kementrian Pertahanan); dan Anzy Lema (Pemerhati Politik). Sedangkan pembicara dari luar alumni yaitu Dr. Frans Teguh, MA (Asisten Deputi Pengembangan Infrastruktur dan Ekosistem Kementerian Pariwisata RI).

Kolonel Agapitus mengatakan, para pemimpin harus memastikan rasa aman terhadap warganya, sehingga masyarakat bisa hidup sejahtera, serta bisa berpikir dan bertindak cerdas.

“Pemimpin harus mengetahui tiga kebutuhan tersebut supaya bisa tentukan kebijakan strategis. Karena penghuni dunia saat ini sudah mencapai 7 miliar orang, dan saat ini telah terjadi perebutan energi, dan ke depan pasti akan terjadi rebutan makan dan minum (proxy war),” kata Kolonel Agapitus.

Ansy Lema mengatakan, mutu sebuah kebijakan tergantung pada pemimpinya (leader). Sejatinya, seorang pemimpin adalah perintis dan pemberi arah dengan misi dan visi yang jelas. “Dalam politik, pemimpin harus lengkap dalam tiga hal yaitu logis, etis, estetis. Tetapi memang cari pemimpin yang demikian tidak mudah,” kata almuni Syuradikara angkatan 94 ini.

Alumni SMP Seminari Pius XII Kisol ini mengatakan, membangun Indonesia hari ini harus dimulai dari daerah, karena paradigma pembangunan saat ini bukan lagi sentralistik. Namun, sebuah daerah bisa maju jika memiliki pemimpin yang sungguh-sungguh membangun daerah.

“Kita bisa lihat Surabaya maju karena ada Risma, Bandung ada Ridwan Kamil, Bantaeng ada Prof Nurdin Abdulah. Banteang ini dulu tertinggal dan sekarang jadi kabupaten contoh bagi daerah lain. Banyuwangi juga demikian, sudah banyak berubah,” urainya.

Karena itu, pembangunan di daerah membutuhkan aktor yang mempunyai keutamaan. Masalahnya, pola rekrutmen pemimpin saat ini base on partai. Sehingga untuk menghasilkan pemimpin yang baik, maka mekanisme rekrutmenya harus baik. Dalam kondisi ini, ada kebutuhan transformasi partai politik menjadi lebih modern, sehingga memilih pemimpin berdasarkan prinsip meritrokrasi.

“Saya lagi peduli dengan pemimpin di NTT. Kita juga butuh pemimpin yang memiliki keutamaam, karena masih ada masalah sanitasi, gisi buruk, dll. Repotnya kita rasis. Saya akan pilih gubernur yang sedaerah dengan saya. Jadi merit sistem itu belum menonjol di proses politik kita di NTT,” tegas Ansy.

Thobyas Djadji mengatakan, seorang leader atau pemimpin harus mempunyai kapabilitas. Pemimpin harus bisa memberi arah, inspirasi, mengelola perubahan, mitigasi krisis, meresolusi konflik, dan adaptif.

“Tetapi inspirasif itu bukan memberi inspirasi, tetapi memberikan keyakinan kepada yang lain juga untuk bisa menerima dan melakukan perubahan secara bersama-sama,” kata mantan Guru Seminari Mataloko yang juga mantan HRD Total EP ini.

Thobyas mengatakan bahwa proses development leader bisa dimulai dengan rekrutmen, penempatan, pelatihan, pembentukan. “Salah rekrut, kita menyimpan sampah,” tukasnya.

 

Pandai Tangkap Peluang

Wartawan senior Pieter Gero menegaskan bahwa para pemimpin di NTT saat ini sudah saatnya menangkap peluang pembangunan yang tengah gencar dilakukan pemerintahan Jokowi. Dia mencontohkan anggaran infrastruktur yang sangat besar, dan juga rencana investasi di sektor ekonomi lainnya. Jika satu persen saja ditarik ke NTT, maka mempunyai dampak yang sangat besar.

“Peluang ekonomi di NTT lagi bagus. Presiden Joko Widodo sudah sering ke NTT, kemudian Menteri PUPR, Basuki sudah pernah berkarya selama empat tahun di Kupang. Beliau paham betul apa yang perlu dilakukan di NTT. Jadi para pemimpin kita harus mendangkap peluang ini, ambil investasi jangka panjang,” jelas alumni angkatan 84 ini.

Kepala Desk Ekonomi Harian Kompas ini juga menjelaskan bahwa para pemimpin di NTT juga harus mempunyai visi ke depan yang disusun secara baik. Dalam hal ini bisa didasarkan pada data-data ekonomi yang valid.

“Pemimpin harus pintar analisa data. Yang kuasai data, akan menguasai ekonomi. Praktek di dunia seperti itu. Ini bisa dimulai dengan memiliki riset center yang melibatkan sektor akademik,” pungkas Pieter.

 

Kapitalisasi Sektor Wisata

Asisten Deputi Pengembangan Infrastruktur dan Ekosistem Kementerian Pariwisata RI Frans Teguh menyoal birokrasi di NTT yang dinilainya lamban karena skill tertinggal dibanding daerah lain. “Cara berpikir kita punya pimpinan di NTT belum ada banchmarking. Masih inbox, harusnya lebih smart, baca peluang,” katanya.

Dia menyebutkan bahwa Provinsi NTT saat ini masuk dalam top hundred atau 100 besar kalender internasional, seperti Tour de Flores, Pasola, dan Festival Kebangsaan di Lembata dan Rote. “Pertanyaanya kita konsisten ga? Poin saya, banyak hal yang bisa dikerjakan dari event-event tersebut,” katanya.

Dia mengatakan bahwa Indonesia mempunyai target 20 juta juta wisatawan yang akan berkunjung ke Indonesia di tahun 2019. Untuk itu, semua wilayah harus siap menjadi destinasi pariwisata internasinal.

“Makanya kita di NTT harus gencar untuk meningkatkan services quality. Sisi lain harus banyak produksi event internasional. Siapkan design culture dan  economic value dari semua event tersebut. Teman-teman IAS harus berkontribusi untuk pikirkan rencana aksinya,” imbau alumni Seminari Mataloko ini.

Sejatinya, kata Frans, anggaran Rp 50 juta sudah bisa menciptakan destinasi wisata baru. “Ini peluang yang harus dipikirkan pemerintah dan para pelaku usaha perhotelan. Juga teman-teman IAS di daerah harus memikirkan ini, bahwa bisnis pariwisata adalah cara yang paling murah untuk meningkatkan lapangn kerja dan kesejahtaaan,” jelas Frans.

Kendati demikian, Frans mengingatkan para pemimpin, pelaku usaha pariwisata, dan masyarakat di NTT, agar tidak memberi janji dan promosi yang muluk tentang pariwisata di NTT  jika tidak dapat mempertanggungjawabkan promosi tersebut.

“Ada promise ‘Welcome to NTT’. Nah, pertanggungjawabannya adalah jamin wisatawan dapat pengalaman terbaik. Kalau belum, sebaiknya jangan dipromosi. Kita harus bisa siapkan lebih baik dengan masyarakat, jika sudah ready baru dipromosikan secara massif,” katanya.

Frans mengatakan bahwa bisnis pariwisata pada dasarnya adalah community based. Mengembangkan pariwisata sama dengan mengembangkan masyarakat. “Bangun infrastruktur itu untuk menunjang kebutuhan masyarakat, bukan wisata. Kehadiran tourist itu nilai plus-nya,” tegas Frans.

Frans menegaskan, 10 destinasi baru di NTT harus  bisa dikapitalisasi. Karena pariwista adalah usaha membuat orang senang dan bahagia.

Sayangnya, sejauh ini usaha pariwisata di NTT tidak dikapitalisasi secara serius. Dia mencontohkan, seharusnya wisatawan tujuan Labuan Bajo tidak harus langsung terbang dari Bali, karena perjalan tersebut terlampau murah dan mudah.

“Harus dikreasi sehingga Labuan Bajo dan Komodo yang cantik jangan dibuka semua. Sekarang kita membiarkan wisata secara langsung menuju ke sana, kapan saja. Ini siklusnya kurang pas. Seharunysa jika Komodo bertelur, jangan dikunjungi wisatawan selama dua bulan. Di masa itu, mereka bisa diarahkan ke Riung, Bena, Kelimutu, dll,” urai Frans.

Dia juga menegaskan bahwa kemasan pariwisata harus menarik. Karena itu, pengembangan pariwisata NTT perlu komitmen pemimpin yang melibatkan pihak akademik. Pihak kampus misalnya bisa mengemas ulang legenda dengan nilai  etik yang menarik wisatawan.

Ketua IAS Nusantara Dr. Ignatius Iryanto Djou menjelaskan bahwa leadership atau kepemimpinan akan menjadi pintu masuk pembangunan karena penanganan berbagai tantangan dalam aspek-aspek kehidupan sangat ditentukan oleh kualitas leadership yang ada dalam berbagai komunitas, organisasi maupun institusi masyarakat.

Dia mengatakan, berbagai persoalan di NTT seperti kualitas pendidikan, kemiskinan, maupun potensi yang ada akan menjadi perhatian alumni, terutama dalam menyongsong HUT ke-65 tahun 2018 mendatang.

“Alumni akan menawarkan diri sebagai mitra dari almamater, bukan sekadar sebagai donator sebagaimana selama ini. Alumni diposisikan dalam posisi mitra, alumni akan menggandeng almamater untuk secara bersama dan setara, memberikan kontribusi seberapapun kecilnya bagi peningkatan kualitas kehidupan bangsa, khususnya di bumi Flobamora,” kata Iryanto.

Sementara itu, General Manager Public Relation tvOne, Raldi Doy yang didapuk selaku moderator Talk Show mengatakan bahwa sudah saatnya para alumni SMAK Syuradikara mengkontekstualisasikan semangat dan nilai-nilai spiritual dari cita-cita Syuradikara (Pencipta Pahlawan Utama) dalam kondisi kontemporer tanah Flobamora, NTT.

“Sebagaimana penggalan syair hymne Syuradikara ‘cita-cita yang kukandung murni mulia hendak mengangkat (martabat) bangsaku Indonesia’, gagasan itu yang harus diejawantahkan dalam mendukung pembangunan NTT baik di bidang politik, keamanan, ekonomi, pariwisata ke depan,” ujar alumni IAS angkatan 84 ini saat membuka diskusi.

Raldy, yang juga pengurus IAS Nusantara ini menegaskan bahwa IAS Nusantara akan mengambil salah satu even internasional di NTT seperti Tour de Flores. “Tunggu tanggal mainnya. Kita ingin berkontribusi nyata untuk Flobamora,” kata Raldy. (Very H)

Subscribe

independen dan terpercaya

No Responses

Comments are closed.