Soft Launcing Benstone Group

Soft Launcing Benstone Group
Robert Kurniawan saat Soft Launcing Benstone Group

Jakarta, WARTANASIONAL.NET – Ber-motto-kan ‘Bangun Nusantara Mandiri’, Robert Kurnawan sang Pendiri tiga perseroan dan dua usaha di bidang kemanusiaan bersama jajaran direksi dan staf melakukan Soft Launcing Benstone Group. Dengan demikian sejak tanggal 11 Oktober 2017 Benstone Group sebagai perusahaan Induk yang memayungi kelima usaha tersebut.
Nama “BENSTONE” merupakan gabungan dari 2 kata, yakni “BEN” yang merupakan nama suku dari pendiri (Robert Kurniawan), dan “STONE” yang berarti batu (bahan untuk bangunan).
Hadir dalam acara Soft Launcing sekaligus Syukuran HUT Robert Kurniawan, bp. Frans Meak Parera (mantan direktur Penerbit Gramedia-Grasindo) selaku penasihat dan para sahabat dari Perhimpunan Sahabat (Persab) Bangun Flobamora yang kebetulan belum lama ini secara aklamasi memilih Robert Kurniawan sebagai ketua dalam rangka Restrukturisasi Organisasi.
Putera Padang keturunan Tionghoa yang lahir 11 Oktober 1953 ini sudah lebih dari tiga dekade, merintis dan mengembangkan bisnis konstruksi dan distribusi material bangunan di bawah bendera, PT. Benstone Cipta Kreasi (BCK), yang menjadi cikal bakal berdirinya kelompok usaha Benstone.
Akan tetapi perusahaan trading yang kini berkantor di Jl. Perjuangan no. 8 Kebun Jeruk Jakarta Barat yang beromsetkan puluhan miliar per tahun ini belum menggeliat apalagi go public karena masih sangat terbatas man power-nya dan masih sangat bergantung pada sang pendiri, Robert Kurniawan sebagai single fiter.
Sebagai bisnis, perusahaan trading pa Robert ini tentu fokus meraih untung. Akan tetapi dengan motto ‘Bangun Nusantara Mandiri’ yang diliputi jiwa dan semangat ‘Kasih Persaudaraan’ maka gerakan pemberdayaan masyarakat untuk membangun rakyat kecil di pedesaan selalu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjuangan pa Robert dalam keseharian aktivitasnya. Nusa Tenggara Timur menjadi sasaran utama gerakan pemberdayaan ini karena prihatin akan ‘stigma’ miskin yang disematkan pada rakyat NTT yang notabene menurutnya bertolak belakang dengan kenyataan yang dialaminya. “Siapa bilang NTT miskin? Saya paling tidak stuju dibilang NTT miskin. Karena lihat ke darat banyak hasil komoditi yang belum tergarap dengan baik, lihat ke laut ikan melimpah, indah pantai-pantainya. Lihat ke bawah ada mangan. Dan lihat ke atas ada Yesus”, katanya setengah canda.
Jadi, lanjut pa Robert, dirinya tidak melihat kemiskinan masyarakat NTT sebagaimana dibicarakan masyarakat luas selama ini, tapi yang ada adalah masyarakat ‘kurang diajar’. “Masyarakat kurang diajar mengolah potensi sumber daya alam yang ada, kurang diajar untuk hidup hemat dan tertib mengelolah keuangan, kurang diajar untuk memanfaatkan waktu secara benar dan berdisiplin”, terang Robert.
Dengan demikian, lanjut Ketua Umum Forum Petani dan Pengepul Jagung Nusantara (FPPJN) bahwa dengan dilauncingnya Benstone Group ini perusahaan yang berorientasi profit harus ditata lebih baik supaya meningkat omsetnya demi meraih keuntungan yang lebih banyak agar mampu menyisikan sebagian keuntungannya sebagai dana social untuk membiayai gerakan pemberdayaan itu.
Pak Robert Kurniawan memegang prinsip bahwa pola bisnis sosial yang dijalankannya melalui kelompok usaha Benstone merupakan manifestasi dari spirit pelayanan Kristiani yang berlandaskan Cinta Kasih. Ia menamai pola bisnis sosial ini sebagai “Christian Business Development”. (ber)

Subscribe

independen dan terpercaya

No Responses

Comments are closed.