Vilidius R.P. Siburian, Merawat Peradaban Batak dalam Selembar Kain Ulos

Vilidius R.P. Siburian, Merawat Peradaban Batak dalam Selembar Kain Ulos

(Wartanasional.net)-Ratusan Kain Tenun Ulos yang dipamerkan di Anjungan Sumatera Utara TMII, pada Sabtu (25/11/2017), bukanlah kain tenun biasa. Kain Ulos itu,  rata rata berusia ratusan tahun, koleksi anak muda Batak, Vilidius R.P. Siburian. Dia menyebut ratusan Kain Ulos bernilai seni tinggi, hasil buruannya di luar tanah Batak, sebagai Maha Karya, bukti peradaban orang Batak.

Kepedulian seorang Vilidius R.P. Siburian,  berangkat dari keprihatinannya terhadap Kain Ulos yang hampir punah. Semakin berkurang orang Batak mengenakan Ulos dalam berbagai acara, seperti pesta atau beribadah. Semakin menurun juga minat generasi muda Batak dalam menenun Ulos.

Perkiraan Vilidius, kini hanya tersisa 30 persen saja perempuan Batak yang masih setia sebagai perajin ulos. Itupun usianya sudah tua. Sisanya telah beralih profesi, seperti berkebun, dagang di pasar, berternak, dan sebagainya.

“ Itu juga yang membuat berkurangnya ketertarikan generasi Batak pada usaha Ulos, karena permintaan ulos yang semakin menurun. Ini yang harus kita bangkitkan,”ujarnya optimistis.

Berdasarkan penelurusuran Vilidius pada semua kampung di Wilayah Sumatera Utara, sudah semakin sulit mencari Ulos-ulos maha karya perempuan-perempuan Batak terdahulu, yang dikenal memiliki mutu terbaik, pewarna alam, dengan ragam motif dan makna. Sementara di pasaran sendiri sudah banyak beredar Ulos-ulos sablon yang menyerupai aslinya. “Saya sedih melihat Ulos-ulos sablon yang merusak maha karya orang Batak itu,”cetus Vilidius, kecewa.

Ulos ulos sablon itu kata Vilidius memang sangat murah. Namun bahan pembuatannya dari limbah dan berbahaya untuk kesehatan. Sementara kain Ulos Batak yang asli adalah dari kapas dan pewarna alam yang sangat ramah lingkungan.  Kata Vilidius, apabila dijalani secara serius, usaha Ulos memiliki potensi ekonomi yang besar.

Rata rata penenun Ulos yang dia temui, memperoleh pendapatan 6 juta rupiah per bulannya. Memang kata dia, saat ini perhatian kepada tenun Ulos sudah sangat kurang, karena mungkin ada yang menganggap pekerjaan yang tidak terlalu menghasilkan secara ekonomi, padahal secara budaya ini sangat tinggi.

Dijelaskan Vilidius, setiap kampung di Batak memiliki khasnya sendiri dalam membuat Ulos. Pengrajin ulos tradisi sudah sedikit jumlahnya karena tidak laku dipasaran dan perlu waktu lama untuk membuatnya. Karena rata rata Ulos dengan warna alam yang warnanya berasal dari tumbuh-tumbuhan hanya celup benangnya saja bisa menghabiskan waktu sampai satu bulan hingga 6 bulan.

Ragam persoalan itulah, membuat Vilidius   tergerak hatinya untuk   membangkitkan Ulos Batak yang hampir punah. Dia pun memburu ulos hingga manca negara. Seperti Singapura, Australia dan Belanda. Dia mengaku justru dirinya menemukan salah satu ulos terbaik ada di Denpasar. Sementara informasi terlengkap tentang Ulos diperolehnya dari Belanda.

Menurutnya, Kain Ulos adalah kekayaan berharga bagi orang Batak. Karena dalam selembar ulos terkandung Filosofi, mitologi, sejarah, ilmu pengetahuan, seni, fungsi, peranan, teknik. Kemampuan seorang penenun, seniman yang memintal kapas, dan merajut warna dari beribu helai benang, sangat luar biasa.  “Jadi Merayakan ulos adalah mengingat penenun, dan merawat peradaban,”ujarnya.

Sambil  memperlihatkan berbagai macam kain Ulos di Anjungan Sumatera Utara TMII, Vilidius, menerangkan tentang cara dan makna dari masing-masing motif Ulos, termasuk turunan-turunan motifnya.

Menurutnya, setiap motif Ulos memiliki arti tersendiri, karena  Ulos pada jaman dahulu memang merupakan media untuk doa. Tidak hanya sebatas hasil kerajinan seni budaya saja, kain Ulos Batak pun sarat dengan arti dan makna.

Sebagian besar masyarakat Batak menganggap kain tenun Ulos adalah suatu lambang ikatan kasih sayang, lambang kedudukan, dan lambang komunikasi dalam masyarakat adat Batak.

“Dalam selembar ulos, ada kekayaan budaya dan peradaban yang penting bagi tanah Batak. Makanya orang yang beli ulos sablon, doanya ikut luntur bersama ulos sablon tersebut,”ujarnya.

Harapan Vilidius, kain tradisional Batak, Ulos kini tidak hanya sekadar menjadi perlengkapan upacara adat semata semata. Tapi Kain ulos yang khas dapat digunakan dalam berbagai kesempatan, baik itu untuk acara resmi ataupun acara lainnya. (kormen barus)

Subscribe

independen dan terpercaya

No Responses

Comments are closed.