Analis Intelijen : Acara Reuni Alumni Aksi 212 Kurang Peminat

Analis Intelijen : Acara Reuni Alumni Aksi 212 Kurang Peminat

Jakarta, rencana alumni Aksi 212 untuk mengadakan reuni di Monas diperkirakan kurang peminat. Gerakan yang semula dibentuk sebagai aksi membela agama terkait kasus penistaan agama ini sudah mengarah kepada gerakan politik. Hal inilah yang membuat alumni aksi 212 yang benar-benar membela agama justru enggan untuk hadir di acara reuni karena tidak mau aksinya dipolitisir.

Tokoh nasional seperti Menkopolhukam Wiranto dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) H Masduki Baidlowi sudah menghimbau agar aksi tersebut tidak perlu terjadi. Bahkan Gubernur DKI Anies Baswesdan yang menjadi simbol kemenangan aksi 212 seolah kurang setuju dengan aksi tersebut dan menyerahkan permasalahan tersebut kepada Polri.

Analis intelijen Stanislaus Riyanta mengatakan “Kemungkinan acara reuni tersebut sepi peminat, bahkan acara ini bisa menjadi anti klimaks dari aksi 212. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang cerdas dan bisa memilah antara aksi agama dan aksi politik. Kebanyakan masyarakat tidak akan rela aksi agamanya dicampur dengan aksi politik. Diperkiarakan hal tersebut sebagai alasan utama acara tersebut akan sepi peminat”.

Stanislaus menambahkan bahwa disamping alasan motif yang tidak didukung, saat ini ada beberapa faktor yang akan menjadi pertimbangan banyak orang untuk tidak ikut dalam acara tersebut. Faktor tersebut antara lain cuaca yang kurang baik dan adanya bencana alam di berbagai tempat di Indonesia.

“Aksi 212 justru akan mendapat simpati dari masyarakat jika diarahkan kepada aksi-aksi sosial, bukan politik. Saat ini sedang terjadi bencana di berbagai tempat. Jika alumni gerakan 212 mengadakan aksi untuk penanganan dan bantuan terhadap korban bencana maka akan banyak masyarakat yang bersimpati. Hal ini sekaligus meluruskan motif gerakan ini adalah gerakan membela agama dan gerakan sosial”, ungkap Stanislaus Riyanta, alumnus Pascasarjana Kajian Stratejik Intelijen Universitas Indonesia ini.

Selain hal tersebut Stanislaus juga menambahkan “Saat ini saatnya melakukan hal yang konstruktif, bersama-sama seluruh elemen bangsa untuk bersatu membangun bangsa. Gerakan-gerakan yang berpotensi menimbulkan polarisasi dan bahkan perpecahan kurang tepat rasanya jika terus dilakukan. Berikan kesempatan negara ini untuk berkembang dengan baik tanpa adanya gangguan-gangguan yang mengarah kepada potensi konflik”, pungkas Stanislaus yang saat ini sedang menempuh studi Doktoral di Universitas Indonesia. (*)

Subscribe

independen dan terpercaya

No Responses

Comments are closed.