Cerita-Cerita Pilu Tentang Perempuan Korban Perdagangan Orang dari Flores

Cerita-Cerita Pilu Tentang Perempuan Korban Perdagangan Orang dari Flores

Oleh : Kormen Barus)*

Sekadar membagi cerita. Mungkin ini yang disebut Jalur Gelap Penjualan Orang. Sebenarnya praktik penjualan orang ini sudah lama. Mencuat karena terbantu oleh media sosial saja. Mirisnya, tidak sedikit TKW yang pulang ke Flores dalam keadaan hamil. Setelah melahirkan dia kembali lagi ke Jawa atau Batam ataupun ke Malaysia.

Cerita Olivia Timu, yang ramai diberitakan, hanyalah salah satu kasus. Hilang sejak tahun 2014 dan tak ada kontak hingga ayahnya meninggal. Kalau memang dia sekadar menjadi pelayan di toko roti, saya kira nasibnya masih jauh lebih beruntung. Bandingkan dengan cerita TKW  asal Flores Timur, di beberapa tahun silam,  yang infonya tertangkap Polisi PP di tempat hiburan malam. Polisi PP kemudian membawanya ke panti sosial lalu menghubungi orang Flores yang mereka kenal.

Cerita TKW lainnya yang kabur, ada juga Yovi, perempuan muda asal Wuih, Lempang Paji yang kabur dari majikan dan diselamatkan orang supir supir asal Bajawa di Jakarta. Ia kemudian ditampung oleh Ase Kae [keluarga] Manggarai Jakarta.

Sebelumnya ada juga beberapa perempuan ABG asal Bajawa yang berhasil kabur dari majikan mereka. Satu dari berapa gadis Bajawa yang usianya diperkirakan masih di bawah 17 itu, sempat bertemu dengan saya di sebuah tempat kawasan TMII. Tatapan matanya penuh curiga. Dia menghindar saat ditanya pengalamannya. Rupanya saat itu dia sedang diteror oleh orang yang membawanya ke Jakarta, sehingga sangat takut bila bertemu dengan siapapun. Tapi anak ini, kini sudah bekerja baik dan secara legal di Jakarta.

Pengalaman yang tidak terlupakan juga, sekitar 8 tahun lalu,  saya diberi kabar oleh Satpam asal  Lembata bahwa di tempatnya kerja ada  gadis Manggarai yang dalam keadaan sekarat di kawasan Pertamburan. Dia tidak punya keluarga di Jakarta. Namanya Maria Wati. Sebenarnya sudah rawat lama di RS Pelni. Namun tak ada tanda-tanda sembuh. Karena sang majikan sudah pusing dengan pembantu ini, maka ditempatkannya di gudang. Beruntung ada satpam dari Lembata yang setia merawatnya. Buang air besar dan kecil dibantu oleh satpam tadi.

Ketika mereka menghubungi saya, saya minta majikannya untuk bawa anak  itu ke RS lagi. Dan, mereka antar ke RS Mintoharjo Benhil. Karena sudah tidak bisa berbicara, tak ada yang tahu dari mana enu ini berasal. Namun dia sempat mengeluarkan kata kata AU IE. Satpam asal Lembata tanya ke saya, apakah ada kampung AU IE di Manggarai. Saya bilang tidak ada. Sepanjang malam saya pikirkan kata AU IE itu. Lalu saya hubungkan dengan kampung-kampung yang mirip dengan sebutan itu. Lalu saya coba menyebut Watu Cie. Saya posting di milis Lonto Leok dan benar anak itu dari Watu Cie. Dan orang yang paling pertama merespon saat itu adalah Om Domi Darus, Bernadus dan Om Gusty Dawarja. Setelah dipastilkan ada keluarga Manggarai Timur datang, seperti Om Domi Darus dan Bernadus, Maria kemudian menghembuskan napasnya.

Saat itu “Kita paksa” majikan untuk bertanggung jawab. Akhirnya biaya pesawat, gaji sekitar 10 juta, ongkos pengantar dan biaya rumah sakit ditanggung majikan. Yang penting semuanya damai. Ceritanya sampai di situ.

Yang jelas, modus perekrutan wanita-wanita asal  Flores dan umumnya masih di bawah umur, rata rata sama. Mereka awalnya dibujuk oleh orang-orang daerah mereka sendiri. Entah itu orang Manggarai atau orang Bajawa. Saat mereka dibujuk untuk jadi TKW, mereka tidak pernah memikirkan bahwa orang yang ajak mereka itu orang jahat. Karena saat dibujuk, pandangan mereka sudah menerawang jauh. Mereka sudah membayangkan betapa banyaknya uang yang mereka miliki nantinya, apabila sudah berada di Jakarta, Batam, Malaysia atau daerah lainnya. Kehidupan jauh lebih baik dari di Flores.

Seperti kisah satu gadis Bajawa. Usianya 15 tahun. Para perekrut mendatangi orang tuanya si anak dan diminta menandatangani kertas kosong. Kertas itulah yang dijadikan data palsu. Entah bagaimana cara mereka, usia anak itu kemudian menjadi 19 tahun.

Selama di Flores anak ini di manja. Tapi saat tiba di Labuan Bajo naik very ke Sape. Hanphone-nya diambil oleh orang yang mengantar atau yang berperan sebagai perekrut. Rupanya di Labuan Bajo sudah ditunggu oleh seseorang dan orang ini kemudin  mendampingi mereka sampai ke Mataram. Di Mataram, orang ini melobi sopir sopir truk yang mengangkut barang ke Jakarta. Dengan bayaran tertentu kepada para sopir, anak anak ini diturunkan di beberapa tempat di Jakarta sesuai yang disepakati. Tidak ada yang curiga dengan anak-anak ini saat menumpang truk, karena kalau ditanya orang, jawabannya adik mereka yang mau ke Jakarta.

Setelah masuk ke Jakarta, mereka sudah ditunggu oleh seseorang di tempat-tempat yang sudah ditentukan. Lalu dibawa ke penampungan. Dari penampungan itu baru disalurkan ke tempat-tempat yang sudah memesan anak anak ini. Cerita anak ini, tiap hari mereka bangun jam 4 pagi dan tidur pukul  23 malam. KTP diambil, mereka tidak boleh berkomunikasi. Bahkan ada yang harus berganti nama. Sialnya sudah bekerja berbulan bulan, mereka tidak terima gaji. Rupanya sang bos sudah membayar gaji mereka di depan atau kepada perusahaan penyalur. Dan perusahaan penyalur telah mentransfer juga kepada perekrut. Baru mereka sadar, uang perjalanan dan biaya makan dalam perjalanan mereka dari Flores ke Jakarta adalah uang mereka sendiri. Mereka mau mengadu tapi serba gelap. Rumah majikan selalu kunci rapat.

Menurut info, biaya satu TKW yang dibayar oleh majikan itu mencapai Rp 10-25 juta. Kurang tahu persis cara perhitungannya. Mungkin dari uang  itulah yang diperoleh calo-calo itu, dari penyalur hingga yang tukang rekrut.

Kormen Barus adalah wartawan senior asal Manggarai, tinggal di Jakarta. Penulis juga aktif membantu sejumlah korban human trafficing asal NTT di Jakarta. (sumber www. florespost.co)

Subscribe

independen dan terpercaya

No Responses

Comments are closed.