Arah Baru Anis Matta

Arah Baru Anis Matta

Oleh: Alip D. Pratama

Wartanasional.net, – Pasca resmi dideklarasikan oleh Keluarga Alumni Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KA KAMMI) sebagai bakal calon presiden (Bacapres) Republik Indonesia, Anis Matta terus menggenjot mesin tim suksesnya untuk mensosialisasikan dirinya di ruang publik.

Terutama di kota-kota besar, aneka gambar Anis menghiasi ruas-ruas jalan ibu kota. Mayoritas publik yang tadinya tidak mengetahui tentang diri beliau, tiba-tiba membincanginya dengan penuh ingin tahu. Keruan saja hal itu terjadi, sebab Anis hadir di ruang publik dengan embel-embel “calon presiden”.

Sementara, publik hanya tahunya itu calon presiden kalau tidak Jokowi, ya Prabowo. Dua nama ini juga masih menempati urutan teratas dalam beragam survey yang dirilis ke media.

Dengan gebrakannya itu, Anis muncul menjadi figure kandidat Presiden alternatif sehingga memperbanyak alternatif pilihan rakyat dalam memilih calon pemimpinnya kelak di tahun 2019.

Siapa Anis Matta?

Dilahirkan di Bone, pria asal Sulawesi Selatan ini sebenarnya adalah wajah lama dalam dunia perpolitikan tanah air. Kiprahnya di tanah air sudah cukup dikenal. Jabatannya di struktural partai cukup mentereng. Anis adalah Sekretaris Jenderal (Sekjen) PKS selama 3 periode di bawah kepemimpinan Hidayat, Tifatul, dan Lutfi.

Kemudian, Pada periode 2009 sampai 2013, Anis adalah Wakil Ketua DPR RI Bidang Kesejahteraan rakyat (Kesra). Setelah itu mengundurkan diri, dikarenakan Anis dilantik menjadi Presiden PKS pasca prahara tempo dulu.

Usahanya untuk menyelamatkan PKS yang tengah diuji integritas dan juga kapasitasnya berhasil. Buktinya, di Pemilu tahun 2014, Anis berhasil tetap menjadikan PKS sebagai salah satu parpol yang masih eksis dalam belantika perpolitikan tanah air, dan Anis juga berhasil membungkam ramalan-ramalahn dari berbagai Lembaga Survey yang menyatakan bahwa PKS akan karam di tahun 2014.

Apa yang Ditawarkan Anis?

Hanya sedikit pemimpin politik di Indonesia yang datang ke ruang publik dengan membawa ide-ide besar, terutama politisi hari ini.

Rata-rata, mereka hadir ke ruang publik, bukannya membawa ide baru tentang masa depan Indonesia, mereka malah menjebak rayat dengan politik uang, sehingga politik tereduksi maknanya sebagai sebuah proses yang sangat transaksional.

Politik bukan dimaknai sebagai tempat bertemunya gagasan-gagasan besar tentang Indonesia, politik juga bukan dimaknai sebagai sarana untuk menghadirkan kemaslahatan bagi bangsa ini, justru, politik menjadi kambing hitam atas segala persoalan di negeri ini.

Namun Anis Matta berbeda. Sesaat sebelum dia diresmikan sebagai Bacapres dari KA KAMMI, Anis mengisi salah satu sesi materi yang dimanfaatkan oleh beliau untuk mensosialisasikan gagasannya tentang Indonesia, dia beri nama; “Arah Baru Indonesia”.

Konsep ini berisikan tentang cara pandang Anis dalam memandang problematika dasar Indonesia hari ini, dan rekomendasi Anis untuk menjawab tantangan zaman.

Dengan menggunakan pisau analisis “Gelombang Sejarah”, Anis mencoba untuk membedah Indonesia ini dengan mengklasifikasikannya menjadi 3 tahapan besar sejarah; pertama, Gelombang “menjadi Indonesia”. Pada fase ini, para founding fathers-lah, menurut Anis, yang banyak berperan dalam proses kelahiran sumpah pemuda. Momen tersebut didefinisikan oleh Anis sebagai hari lahirnya sebuah bangsa baru, Bangsa Indonesia.

Era gelombang pertama ini, yang disebut Anis sebagai era lahirnya sebuah bangsa baru, adalah sebuah kesadaran kolektif bangsa Indonesia, terutama pemudanya, untuk mengakhiri polemic seputar fanatisme kedaerahan yang selama masa penjajahan oleh VOC dan juga Pemerintahan Belanda, mengadu domba kita antara satu daerah dengan daerah lainnya.

Buah dari poletik etis, yang memberikan saluran bagi pemuda-pemuda elit pribumi untuk mengenyam pendidikan di Barat, turut juga mendorong lahirnya sebuah kesadaran nasional. Maka, uniknya Indonesia ini, bangsanya telah lahir terlebih dahulu, sebelum negaranya.

Fase kedua adalah gelombang sejarah “mencari sistem ekonomi dan politik yang kompatibel dengan Indonesia”. Fase ini ditandai dengan adanya perubahan sistem ekonomi dan politik yang terus berubah-ubah selama masa pemerintahan Orde Lama, Orde Baru, dan Reformasi.

Gonta-ganti sistem dari parlementer hingga ke sistem presidensial, kemudian perdebatan tentang konsep ekonomi yang terjadi antara poros ekonomi liberalisme dan juga sosialisme yang terpusat pada Sumitro Djojohadikusumo, Widjoyo nitisastro, dan juga Syafruddin Prawiranegara.

Sebagaimana Negara-negara berkembang pada umumnya, Indonesia pasca kemerdekaan memulai bab baru sebagai sebuah bangsa yang terus-menerus mencari identitas dirinya sendiri.

Maka, sepanjang masa-masa sistem parlementer, Indonesia bergulat dengan perdebatan tentang ideology Negara, falsafah Negara, serta dasar bernegara.

Pada periode Orde Lama, Indonesia memasuki bab baru; transformasi menjadi Negara bersistem Presidensial. Soekarno adalah sosok yang menjaga titik equilibrium antara faksi islamis, komunis, dan juga militer yang terus bergejolak di dalam cabinet sampai menjalar ke akar rumpun. Sedangkan selama periode Orde Baru, Indonesia memasuki fase kestabilan ekonomi dan politik di bawah kepemimpinan Soeharto.

Saat fase Reformasi, terjadi amandemen konstitusi sebanyak empat kali yang berimplikasi pada tatanan sosial, ekonomi, dan juga politik. Namun ada dua hal yang menonjol yang terjadi pada fase ini; adanya demokratisasi di segala lini, dan kembalinya Militer ke Barak karena dihapuskannya konsep “dwi fungsi ABRI”.

Anis kemudian, dalam deklarasi KA KAMMI tersebut, merumuskan bahwa gelombang ketiga itu adalah sebuah fase di mana Indonesia telah menyelesaikan proses transisi reformasi, dan menjadi “the new actor” dalam isu-isu di kawasan dan juga global.

Anis memaparkan bahwa, Indonesia seolah-olah berjarak dengan beragam isu internasional tersebut, dan Nampak terlalu larut dalam beragam isu politik dalam negeri, sehingga kehilangan integritasnya sebagai actor yang memiliki “potential power” untuk mengatasi dan memberikan solusi dalam beragam permasalahan global hari ini.

Arah Baru Anis Matta

Indonesia yang telah berumur 72 tahun, rupanya sampai hari ini belum rutin memiliki Presiden yang memang benar-benar berasal dari rahim pergerakan islam. Sejarah panjang gerakan islam di Indonesia yang telah di mulai dari Syarekat Islam, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Persis, dan seterusnya yang rata-rata lebih dahulu lahir dibandingkan Negara Indonesia, dengan jumlah pengurus dan anggota yang tersebar di seluruh Indonesia, serta berbagai macam asset organisasi seperti sekolah, perguruan tinggi, yayasan, hingga rumah sakit, rupanya belum menjadi jaminan bahwa semua potensi tersebut bisa dikapitalisasikan ke dalam dunia politik.

Munculnya nama Anis Matta di dalam percaturan Pilpres hari-hari ini tentu cukup memberikan angin segar bagi para aktifis pergerakan islam di Indonesia. Keberaniannya untuk mendobrak kejumudan politik nasional hari ini, dan kedatangannya dengan membawa narasi yang mengintegrasikan antara konsep keislaman, nasionalisme, dan juga demokrasi, adalah sebuah bukti bahwa dia layak untuk diperhitungkan di tahun 2019 nantinya.

Jika kita perhatikan, nama-nama kandidat presiden yang benar-benar berasal dari kantung umat islam, disamping Anis, relatively baru TGB Zainul Majdi dan Muhaimin Iskandar. Namun sampai saat ini, baik Zainul Majdi, dan juga Muhaimin, belum juga mensosialisasikan gagasannya, serta cetak biru pikirannya terkait Indonesia masa depan yang akan mereka pimpin nantinya.

Maka sampai hari inipun, baru Anis Matta yang telah benar-benar siap, baik secara konseptual, material, dan juga mental untuk bersaing secara serius dalam percaturan pilpres 2019 nanti. Untuk itu, penulispun bertanya-tanya, apakah nanti jawaban dari pertanyaan “Arah Baru Anis Matta” di tahun 2019 nantinya adalah takdir sejarahnya sebagai pemimpin nasional Indonesia? Semoga saja!.(*)

Subscribe

independen dan terpercaya

No Responses

Comments are closed.