Grand Strategy Indonesia Kendaraan Terminal Menuju Kelas Dunia

Grand Strategy Indonesia Kendaraan Terminal Menuju Kelas Dunia
Direktur Utama PT Indonesia Kendaraan Terminal Chiefy Adi Kusmargono (kedua kiri) bersama Direktur Komersial Pengembangan Bisnis Arif Isnawan (dari kiri) , Direktur Operasi dan Teknik Indra Hidayat Sani, dan Direktur Keuangan dan SDM Sugeng Mulyadi,mengacungkan jempol bersama usai paparan kinerja perseroan, di Jakarta, Rabu (11/4). Anak usaha PT Pelabuhan Indonesia II bidang terminal parkir kendaraan di pelabuhan itu pada 2017 berhasil meningkatkan keluar mobil ekspor sebanyak 228.558 unit atau naik 19.4% dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebanyak 191.463 unit.

(Wartanasional.net)-Anak perusahaan dari PT Pelabuhan Indonesia II (Persero), PT Indonesia Kendaraan Terminal (IKT), tahun ini berencana  akan menggelar aksi korporasi berupa penawaran umum perdana saham (Initial Public Offering/IPO). Jumlah saham yang akan dilepas sebanyak 30 persen saham dan ditargetkan dapat meraih dana segar Rp1 triliun.

Direktur Utama IKT, Chiefy Adi Kusmargono dalam paparannya kepada media di Jakarta, Rabu (11/4/2018), mengatakan, Nantinya, dana hasil IPO akan digunakan untuk pengembangan bisnis. Sebagian besar yaitu sekitar 70 persen untuk investasi pengembangan terminal dan sisanya untuk modal kerja.

Perinciannya adalah: 50 persen akan digunakan untuk pengembangan tempat penampungan kendaraan, dalam bentuk pembangunan gedung parkir vertikal dan horizontal. Lalu, 25% untuk sewa lahan dibayar dimuka dan 25% untuk operasional.

“Kami tengah menunggu persetujuan pemegang saham dalam RUPS yang dalam hal ini diwakili keputusan dari Menteri BUMN, Rini Soemarno. Harapan kami, rencana IPO ini dapat terlaksana dalam semester I tahun ini juga,”ujarnya.

Dalam aksi korporasi ini, Perseroan menggandeng PT Bahana Sekuritas, PT Mandiri Sekuritas, PT RHB Sekuritas Indonesia, dan PT BNI Sekuritas sebagai joint lead underwriter, serta PwC dan dilanjutkan oleh PT Danareksa Sekuritas sebagai penasihat keuangan. Langkah penerbitan IPO, kata Chiefy, sebagai upaya untuk mendapatkan investor strategis sehingga dapat mendorong kegiatan bisnis Perseroan terkait ekspor.

Perseroan juga menggelar kegiatan non deal roadshow untuk menggaet investor mancanegara. Baru-baru ini perseroan telah mengunjungi Thailand. Untuk selanjutnya, perseroan akan mengadakan roadshow lanjutan ke Singapura, Malaysia, Thailand, dan Hongkong. Perseroan juga akan  menggandeng perusahaan global untuk bekerja sama dalam pengoperasian terminal, terutama di wilayah-wilayah tujuan ekspor otomotif dari Indonesia.

Dari situ tentunya bisa menjadi mitra bagi Perseroan. Mitra global tersebut dapat mendorong upaya Perseroan untuk memperluas jaringan bisnis hingga ke Amerika Latin dan Timur Tengah. Jadi, kata dia,  IPO ini tidak semata-mata untuk mencari dana melalui pasar modal, akan tetapi merangkul investor strategis.

Negara tujuan ekspor terbesar Perseroan saat ini adalah Filipina (40,6 persen), Saudi Arabia (18,9 persen), serta Vietnam (7,6 persen). Sementara negara impor terbesar adalah Thailand (64 persen), India (27,2 persen), serta Korea (5,1 persen). Untuk arug kargo domestik saat ini daerah tujuan terbesar adalah Makassar 40 persen, Batam 16 persen, dan Balikpapan 14 persen.

Selain itu, perseroan juga merencanakan untuk menggandeng mitra strategis untuk mengembangkan bisnis yang dijalankan sepanjang ini. Dari dalam negeri, pihaknya membidik beberapa entitas bisnis yang bergerak di bidang logistik, truck carrier, terminal operator, shipping line, dan juga perusahaan jasa keuangan.

Soal penambahan kapasitas, menurut  Chiefy, perseroan akan menambah kapasitas lapangan penempatan mobil, alat berat dan spare parts menjadi 2,5 juta unit dari saat ini sebanyak 700 ribu unit. Dimana luas lapangannya akan bertambah menjadi 89 hektar dari sebelumnya 31 hektar.

IKT akan menambah kapasitas dengan membangun gedung parkir bertingkat seluas lima ha. Gedung parkir itu akan menjadi gedung parkir kendaraan kedua yang dikelola IKT. Saat ini, IKT juga mengelola gedung parkir lima tingkat dengan kapasitas 2.766 unit kendaraan.

“Bila rencana perseroan menambah kapasitas terwujud, IKT bisa menjadi terminal kendaraan terbesar di dunia. Namun, itu terjadi jika terminal lain tidak melakukan pengembangan kapasitas.

Saat ini, terminal kendaraan terbesar di dunia adalah Terminal Zeebrugge di Belgia dengan kapasitas 2,2 juta unit. Di Asia Tenggara, IKT menempati peringkat ketiga setelah Terminal PSA Singapura dan Terminal Namyong, Thailand,”ujarnya.

Sugeng Mulyadi, Direktur Keuangan dan SDM IKT menambahkan, di sepanjang 2017, perseroan catat perolehan pendapatan usaha sebesar Rp422,1 miliar, naik 34,3 persen dibanding tahun sebelumnya sebesar 314,3 miliar. Perseroan juga membukukan pertumbuhan dari sisi laba bersih yaitu sebesar 32,2 persen dari Rp98,4 miliar menjadi Rp130,1 miliar.

IPC Car Terminal merupakan operator terminal pelabuhan yang khusus melayani kendaraan, yang mencakup mobil, truk, bus dan suku cadang.  IPC Car Terminal merupakan satu-satunya operator dedicated car terminal dan yang terbesar. Perusahaan juga yang terbesar ketiga di Asia Tenggara dan terbesar ke-27 di dunia, di atas New York dan Rotterdam.

Manajemen menginginkan IPC Car Terminal tereskalasi standar internasional dan diperhitungkan di dunia. Karena hal tersebut menunjukkan kapasitasnya sebagai operator terminal khusus kendaraan yang terpercaya.

IPC Car Terminal memiliki tiga lini usaha. Pertama, terminal handling yang melayani bongkar muat kendaraan dan alat berat. Kedua, value added services meliputi pencucian, pemasangan aksesoris sesuai pesanan klien dan layanan tambahan lainnya. Ketiga, Ro-Ro service yang berfungsi menunjang proyek tol laut pemerintah.

Dari ketiga lini bisnis ini, lini terminal handling menyumbang 97% terhadap total pendapatan. Yang paling kecil adalah Ro-Ro Services, karena merupakan layanan penunjang program tol laut pemerintah. Dari terminal handling, kontribusi paling besar berasal dari terminal internasional, sekitar 92%. Perbedaan tarif serta volume menjadi penyebab  terminal internasional mencatatkan pendapatan yang lebih tinggi ketimbang domestik.

Namun, tahun depan market domestik akan ditambah karena perusahaan akan intens mendekati perusahaan-perusahaan yang masih menggunakan terminal konvensional untuk pindah ke terminal yang dikelola oleh IPC Car Terminal. “Targetnya, tahun depan kontribusi antara terminal internasional dan domestik masing-masing 70% dan 30% terhadap total pendapatan,” papar Chiefy.

PT Indonesia Kendaraan Terminal (IKT) juga tidak hanya terbatas pada jasa pengiriman kendaraan dan alat berat menggunakan cargo untuk didistribusikan ke pasar ekspor maupun impor. Namun IKT  merambah bisnis penyediaan pelayanan tambahan antara lain Vehicle Processing Center (VPC) termasuk jasa pengecatan, pencucian dan pemasangan asesoris mobil. Indra Hidayat Sani, Direktur Operasi Indonesia Kendaraan Terminal mencontohkan, mobil impor dari pabrik Thailand ketika sampai di pelabuhan IKT perlu dibersihkan dan modifikasi terlebih dahulu. Setelah itu, bisa langsung dikirimkan ke berbagai daerah tujuan di Indonesia.

 “Pencucian dan pengecatan sudah tersedia di dalam pelabuhan kita, serta dikenakan biaya lebih murah karena sesuai kebijakan yang dicanangkan pemerintah,” ungkap Indra. (kormen)

Subscribe

independen dan terpercaya

No Responses

Comments are closed.