Siapkan Bisnis Berbasis Konsep, Prasetiya Mulya Luncurkan New Ventures Innovation

Siapkan Bisnis Berbasis Konsep, Prasetiya Mulya Luncurkan New Ventures Innovation

(Wartanasional.net)-Ekosistem digital tidak muncul begitu saja dengan mudah. Dunia kewirausahaan  menghadapi tantangan besar dengan fenomena digitalisasi, sehingga banyak orang seperti berjalan dalam kegelapan meraba-raba.

Dekan Sekolah Bisnis dan Ekonomi (SBE) Universitas Prasetiya Mulya, Agus W. Soehadi, mengatakan, dari pertemuan dengan dekan-dekan sekolah bisnis di Asia Pasifik, ada arus kuat bahwa sekolah-sekolah bisnis yang dulu berorientasi pada profesional kini bergeser ke arah entrepreneurship. Sayangnya, pendidikan kewirausahaan sekarang ini belum bisa dikatakan well-established.

“Seperti sekarang ini, kita seperti gamang menghadapi arus digitalisasi bisnis yang tak bisa dibendung oleh siapa pun. Dalam situasi yang serba kompleks ini kita membutuhkan mentor dan ekosistem yang mendukung semua pihak”, ungkapnya di peluncuran Innovation Hub dan program magister manajemen (MM) baru bernama New Venture Innovation (NVI) di Universitas Prasetiya Mulya, Kampus Cilandak, Kamis 6 Mei 2018.

Untuk itulah, menurut Agus, program NVI Prasetiya Mulya menjadi penting dibangun. “Gambarannya bila tanpa pendidikan yang terstruktur, seperti yang kita rancang untuk para startup ini, jatuhnya berkali-kali, diharapkan dengan pendidikan yang terstruktur jatuhnya cukup beberapa kali saja dan cepat bangun”, pungkas Agus.

Perubahan besar sedang terjadi dalam lanskap bisnis dewasa ini. Kalau dulu perusahaan-perusahaan besar dan berpengaruh di dunia dikuasai oleh sektor-sektor industri pertambangan, energi, perbankan dan sejenisnya, kini dan lima tahun terakhir beralih ke perusahaan-perusahaan digital.

Andy Zain, Managing Director Kejora Ventures yang hadir dalam peluncuran Innovation Hub dan program MM NVI, itu, mengatakan, lima belas tahun yang lalu, perusahaan-perusahaan besar di Amerika dikuasai oleh sektor kalau tidak minyak, retailer besar dan bank. Lima tahun yang lalu sampai sekarang, lima besar perusahaan terbesar itu digital; ada Apple, Google, Alphabet, Amazon, Facebook,  Microsoft. Dua puluh orang terkaya di Amerika, tujuh di antaranya adalah datang dari (perusahaan) digital. Ada di China, dari dua puluh orang terkaya di sana, delapan di antaranya adalah orang digital.

“Semua perusahaan besar digital tersebut tidak muncul dan sukses dengan jalan yang mudah. Semua menghadapi jatuh bangun dan umumnya para pendirinya tidak dibekali pendidikan khusus yang terprogram sejak awal untuk membangun seperti apa yang sudah besar dan sedang mereka jalankan sekarang ini,”ujarnya.

Ekosistem Enterpreneur

Di kesempatan lain Dekan SBE Agus W. Soehadi, juga menyinggung soal fasilitas InnovationHub sebagai wadah interaksi dalam ekosistem enterpreneur. “Fasilitas InnovationHub ditujukan sebagai wadah interaksi dalam ekosistem enterpreneur, diantaranya founders digital start-ups, venture capitalists, perusahaan pendukung digital startup (IT companies, Business Coaches, Financial Institutions), pemerintah, professional perusahaan, dan komunitas,” tegasnya.

Sementara Direktur Program MM Universitas Prasetiya Mulya, Indria Handoko, mengatakan, program NVI dibuat dengan tujuan untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan membangun dan mengembangkan bisnis startup secara eksponensial (scale up).

“NVI merupakan program MM paruh waktu selama 18 bulan, termasuk matrikulasi. Pendekatan yang digunakan adalah kombinasi dari tiga hal utama: pendekatan akademik, praktikal dan ekosistem kewirausahaan. Pendekatan akademik, merupakan pondasi untuk membentuk pola pikir terstruktur yang dibutuhkan khususnya untuk mengambil keputusan stratejik yang cepat dan inovatif dalam bisnis startup”, jelas Indria.

“Pendekatan praktikal, adalah inti dari NVI, terutama dalam bentuk proyek pembuatan bisnis stratup yang dinamai New Venture Project (NVP). Di sini setiap mahasiswa akan mendapat pendampingan secara intensif baik dari Faculty Member maupun praktisi dalam bentuk supervisory, mentoring, coaching. Dan hal terakhir yang penting adalah ekosistem entrepreneur, dalam bentuk yang dinamakan InnovationHub, yang berperan sebagai enabler dalam learning process dan pembuatan New Venture Project. Keterlibatan aktif mahasiswa di ekosistem sangat penting untuk membangun dan memanfaatkan akses pada network yang dapat mendukung bisnisnya”, ungkap Indria.

Deputi Infastruktur Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) Hari Sungkari,  mengungkapkan,  pentingnya ekosistem yang mendukung untuk dapat melahirkan banyak startup di Indonesia.

“Bicara soal startup, kita sebagai pemerintah bertugas untuk membangun ekosistemnya, di antaranya dengan infrastruktur yang baik. Oleh karena itu apa yang dibuat di sini dengan Innovation Hub itu sangat berarti. Saya harap ukuran Innovation Hub bukan bentuk fisiknya, tapi berapa talent dan berapa banyak mentornya”, kata Hari.

Menurut Hari, startup mau datang ke Innovation Hub karena mereka membutuhkan para mentor. “Para mentor itu bisa berperan sebagai macam-macam, bisa menghubungkan para startup dengan pasar, dengan visi bisnis, dengan investor malaikat dan lain-lain. Saya berharap dengan jaringan alumni Prasetiya Mulya yang besar, ekosistem ini bisa dibangun, apalagi dengan para mentor yang memang sudah punya pengalaman membangun bisnis yang besar,” ungkapnya sebagai pembicara kunci pada acara yang dihadiri para praktisi startup yang bergerak antara lain di bidang keuangan (fintech), data besar (big data), dan distribusi. (Kormen)

Subscribe

independen dan terpercaya

No Responses

Comments are closed.