Memahami Program Promotif dan Preventif Penyakit Lupus Eritematosus Sistemik 

Memahami Program Promotif dan Preventif Penyakit Lupus Eritematosus Sistemik 

(wartanasional.net)-Penyakit Lupus Eritematosus Sistemik (LES) merupakan penyakit inflamasi sistemik autoimun kronis yang belum jelas penyebabnya. Penyakit ini terutama menyerang wanita usia produktif dengan angka kematian yang cukup tinggi. Berdasarkan data dari Sistem Informasi Rumah Sakit 2016 terdapat 2.166 pasien rawat inap yang didiagnosis Lupus, dengan 550 pasien diantaranya meninggal dunia. Tingginya kematian akibat Lupus ini perlu mendapat perhatian khusus karena sekitar 25% dari pasien rawat inap di rumah sakit di Indonesia tahun 2016 berakhir pada kematian.

Penyakit LES dapat menjadi beban sosio-ekonomi bagi masyarakat dan negara karena penyakit ini memerlukan pengobatan dan penatalaksanaan yang tidak sederhana, dan melibatkan banyak bidang keahlian tertentu serta mahalnya biaya perawatan yang harus dikeluarkan, serta berlangsung seumur hidup.

LES bukan merupakan penyakit menular, penyakit ini sendiri dapat dikendalikan sehingga penderita dapat menjalani kehidupannya secara mandiri. Peranan keluarga dan orang-orang terdekat merupakan satu hal yang panting untuk disampaikan kepada keluarga ODAPUS (Orang dengan Lupus).  Untuk meningkatkan penemuan LES pada masyarakat dapat dilakukan dengan sosialisasi SALURI (Periksa Lupus Sendiri) pada saat kunjungan ke fasilitas pelayanan kesehatan.

Dalam rangka memperingati Hari Lupus Sedunia, Direktorat P2PTM ingin mengadakan media briefing untuk mengedukasi masyarakat dan keluarga mengenai pentingnya deteksi dini penyakit LES.

dr Sumariyono, SpPD-KR, Divisi Reumatologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM), menyebut lupus bisa menyerang dari ujung rambut hingga ujung kaki. Jadi, Lupus merupakan salah satu penyakit autoimun yang merepotkan. Sebabnya, lupus tak hanya menyerang satu organ saja, namun bisa menyerang beberapa organ tubuh sekaligus.

“Penyakit radang sistemik karena autoimunitas, yang sifatnya non-organ spesifik. Jadi menyerang dari ujung rambut hingga kaki,” ujarnya dalam diskusi Hari Lupus Sedunia, di Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM), Jl Percetakan Negara, Salemba, Jakarta Pusat, Selasa (8/5/2018).

Menurut dr Sumariyono, Lupus merupakan salah satu penyakit autoimun, di mana sistem imunitas atau kekebalan tubuh seseorang kehilangan kemampuan untuk membedakan subtansi asing (non-self) dengan sel dan jaringan tubuh sendiri (self). Kondisi ini membuat sistem kekebalan tubuh menyerang sel, jaringan, dan organ tubuh yang sehat. lupus menyerang seluruh anggota badan. Dampak penyakit lupus bisa terlihat di kulit, sendi, sistem saraf, ginjal, paru, jantung, sel darah, dan lain-lain.

Gejala dan tanda Lupus dapat muncul dari berbagai organ, misal otot dan sendi yang terasa nyeri tanpa sebab jelas, kulit sensitif terhadap matahari, dan kaki bengkak karena gangguan ginjal. Gangguan ginjal karena lupus juga bisa menyebabkan buang air kecil keruh, berbusa, dan kemerahan.

Dia mengatakan, LES adalah radang yang terjadi di seluruh bagian tubuh karena auto-imun yaitu satu penyakit karena sistem kekebalan tubuh yang tidak tepat di tubuh kita. Sistem imun yang harusnya merespon dengan menghilangkan zat asing di dalam tubuh tapi malah menyerang bagian dari tubuh kita.

Gejala pertama yang muncul bisa berbeda-beda di setiap orang. Tapi lama-kelamaan dia akan mengeluarkan gejala sejatinya yakni ruam berbentuk kupu-kupu di pipi, wajah, atau bahkan di langit-langit mulut. “Belum ada penelitian yang bisa membuktikan penyebab LES, tapi secara umum penyebabnya bisa berasal dari genetika, lingkungan, hormonal, dan neuroendocrine system,” ujar dr.Sumariyono lagi.

Asjikin Iman Hidayat Dachlan, MHA – Pelaksana Tugas Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, mengatakan, pencegahan sedari dini dan penanggulangan wajib dilakukan agar mempermudah penyembuhan dan meminimalisir efek samping yang dihasilkan LES. Apalagi penyakit ini termasuk yang memakan biaya mahal dan butuh pengobatan berkelanjutan. “Deteksi dini mempermudah penyembuhan dan efek sampingnya karena penyakit ini juga sangat dinamis,” ujar dr. Asjikin.

Pemerintah juga menyusun metode pengobatan dengan adanya kebijakan khusus pelayanan kesehatan bagi Orang dengan Lupus (Odapus). Ini sesuai dengan Undang-undang no.40 tahun 2004 Pasal 19 tentang jaminan kesehatan diselenggarakan secara nasional berdasarkan prinsip Asuransi Sosial dan Ekuitas. Karena penyakit ini belum bisa disembuhkan maka tujuan pengobatan Lupus adalah untuk mendapatkan remisi panjang, mengurangi tingkat gejala, dan mencegah kerusakan organ, serta meningkatkan kesintasan. (kb)

Subscribe

independen dan terpercaya

No Responses

Comments are closed.