Rizal Ramli Berbagi Informasi dengan Kabulog, Budi Waseso

Rizal Ramli Berbagi Informasi dengan Kabulog, Budi Waseso
Rizal Ramli bersama Kepala Bulog Budi Waseso. (Foto: Ist)

 

Wartanasional.net – Ekonom Senior Indonesia Rizal Ramli bertemu dengan Direktur Utama Badan Urusan Logistik (Bulog) Budi Waseso, Rabu (23/5/2018). Dalam pertemuan tersebut Rizal mengaku saling berbagi pengetahuan soal bagaimana menjalani tugas sebagai Kabulog.

Rizal Ramli mengaku menjelaskan tentang ketahanan pangan, impor dan lain sebagainya. Untuk diketahui, mantan Menko Perekonomian ini pernah menjabat Kabulog pada saat pemerintahan Gusdur di Tahun 2000.

Informasi itu diperoleh melalui akun Twitternya pada Hari ini (Rabu/23/5/2018). “Dengan Ka Bulog Buwas dan Jose Rizal, Ketua Umum Asperindo tadi pagi,” tulisnya.

Sebelumnya, mantan Menko Kemaritiman ini mengatakan menolak impor beras. Pasalnya, sebagai negara kaya, Indonesia tidak pantas menerima impor berar. Impor pangan, katanya, hanya digunakan oleh elit untuk memungut rente, sementara menyengsarakan rakyat kecil.

Rizal Ramli dalam berbagai kesempatan mengatakan, mengaku khawatir akan terjadi perubahan kekuasaan yang lebih cepat di Indonesia sebelum pemilu tahun 2019.

“Kami khawatir jangan-jangan bisa terjadi perubahaan sesuatu yang lebih cepat sebelum tahun 2019 dari perubahan yang terjadi tahun 1998,” kata Rizal di Gedung Joeang 45, Jakarta, Senin (21/5).

Hal itu diungkapkan mantan Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog) ini karena melihat situasi Tanah Air saat ini. Menurutnya sekarang terdapat kesamaan gejala krisis yang terjadi pada 20 tahun lalu.

Rizal mengatakan perubahan kekuasaan yang terjadi pada akhir era Orde Baru itu dipicu oleh krisis kepercayaan, ekonomi, pangan, dan moneter pada saat bersamaan.

Gejala krisis itu sudah terlihat saat ini dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang mencapai Rp14.190 lebih dan beberapa gejala krisis ekonomi lainnya.

“Kalau kita tidak hati-hati hari ini mulai ada krisis kepercayaan ada krisis ekonomi mulai ada gejala awal krisis moneter dan kalau tidak hati-hati ada keresahan juga dari berbagai kelompok yang merasa tidak aman dan nyaman,” tutur Rizal.

Sebelumnya, Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso memastikan bahwa tingginya harga beras yang terjadi saat ini karena ada permainan di rantai distribusi. Bahkan, mantan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) ini mengaku telah mendata para pemain yang sering merugikan para pedagang beras.

Diketahui, hampir seminggu bulan suci Ramadhan tahun ini, harga beras di beberapa lokasi masih di atas harga eceran tertinggi. Pemerintah pun berencana memasok beras impor lagi sebanyak 500.000 ton untuk menambah pasokan dan menekan harga.

“Ini semua terjadi, karena mata rantai. Saya lihat bagaimana mungkin beras itu murah tapi jatuh ke konsumen jadi mahal. Jadi jangan coba-coba, karena saya sebenarnya sudah punya peta siapa yang bermain dan di mana permainan itu,” katanya di ruang rapat komisi IV, Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta.

Kendati telah mengetahui siapa yang bermain diarea pangan tersebut, ia mengaku tak sembarangan untuk menangani masalah itu. “Saya tahu bagaimana permainan dan juga kartel saya sudah punya petanya, bagaimanapun saya pernah jadi aparat dan punya kekuatan jejaring intelijen dan sudah saya coba dan terbukti tapi ini masalahnya jadi besar makanya saya silent,” tutupnya. Very

Subscribe

independen dan terpercaya

No Responses

Comments are closed.