Belajar dari “Durian Ucok”, Biarkan AHY “Matang Pohon”

Belajar dari “Durian Ucok”, Biarkan AHY “Matang Pohon”

Oleh: Thomson Cyrus

Ada istilah belakangan ini yang keren, “jika pergi ke Medan, tidak lengkap kalau tidak mampir ke Ucok Durian!” atau “Belum ke Medan kalau tidak mampir ke Ucok Durian!” Kenapa? Karena Durian Ucok Medan belakangan sangat terkenal.

Merk Dagangnya, benar-benar kuat. Meski pemiliknya Zainal Abidin bukanlah orang Batak, tetapi dia memakai Ucok sebagai merek dagangnya. Nama ucok bukan asing lagi buat telinga orang Indonesia. Ucok itu panggilan anak lelaki bagi orang Batak.

Apa sih keunggulan Durian Ucok Medan ini? Sebenarnya semua berawal dari sifat dasar durian itu sendiri yang susah ditebak isinya. Durian, luarnyanya berduri, aromanya tajam dan khas, tetapi kita tidak tahu seperti apa di dalamnya. Karena kita tidak bisa membaca isi durian dari luarnya, maka otomatis kita tidak tahu seperti apa kualitas buahnya.

Karena itulah, Bang Ucok tidak bisa menjamin apakah durian yang dijualnya enak apa tidak? Maka diterapkanlah sistem, “Kalau tidak enak, pelanggan tidak puas, atau tak pas dengan selera, duriannya bisa diganti” Kata pekoknya, semua berasal karena tidak bisa di guarantee isinya. Nah, karena Bang Ucok berani mengambil resiko rugi, barang diganti, pelanggan puas, pelanggan happy.

Meski Bang Ucok alias si Zainal Abidin ini sudah puluhan tahun jualan durian, sebenarnya baru sepuluh tahun terakhir terkenal. Saat saya kuliah dulu di USU, kawan ini belum terkenal…hehe…

Jika anda belum pernah merasakan Durian Medan, ada 2 ciri khas rasanya, Manis Legit dan Pahit. Nah, disitu sensasi makan durian Medan. Yang sering jadi pertanyaan kan adalah kok bisa sepanjang tahun, Durian Ucok Medan buka, padahal Durian Medan ada musimnya. Antara bulan Juni hingga Desember.

Lalu dari Januari hingga Mei, Bang ucok ambil durian darimana? Hehe…Dia ambil dari Padang, Pekanbaru hingga Jambi. Keren ya…Tapi tetap aja namanya Durian Medan. Itulah hebatnya Brand. Nah, selain cita rasanya tadi, ciri khas lainnya adalah bahwa Durian Medan itu rata-rata matang pohon, bukan di karbit! Sehingga Aroma nya sangat khas, enak, menusuk hingga ke rongga penciuman paling dalam.

Kok jadi ngomongin Durian Ucok Medan ya? Tujuannya ada, agar kita bisa melihat dengan jernih, bahwa ada perbedaan antara di karbit dan matang pohon!

Sejak AHY mengikuti kontestasi Pilkada DKI, lalu dia mengundurkan diri dari Perwira TNI dalam usia relatif muda, sudah sangat banyak tulisan mengenai itu dan saya tidak masuk wilayah kok mengundurkan diri, segala macamnya. Saya hanya mau mengajak gimana sih rasanya buah yang di karbit dan matang pohon?

Dewasa ini banyak buah yang dikarbit. Buah yang dikarbit adalah proses pematangan buah buah tersebut bukan di pohon tapi buatan secara tradisional dengan cara memeram buah dengan karbit (Kalsium karbida), biasanya proses pematangan buah yang di karbit tidak optimal. Wangi, rasanya bisa berbeda, yang paling gampang, buah yang dikarbit itu lebih cepat busuk.

Lalu pikiran liar saya, teringat dengan anak muda, Agus H Yudhoyono! Dia perwira TNI yang masih muda, yang harusnya masih berproses untuk bisa dipetik buah hasil pemikirannya. Memang pertanyaan orang cukup tajam selama ini? Kenapa sampai sebegitu nafsunya SBY memetik AHY padahal tanda-tanda kematangan itupun belum ada.

Sangat terlihat saat Pilkada DKI, dia masih sangat hijau, baik ketika berdebat yang saat itu terlihat dipoles, dilatih cara berbicaranya, dihafal materi jawabannya maupun saat berkampanye, nuansa SBY nya sangat kental. Lalu kita memang sadar, AHY belum waktunya dipanen.

Bahwa dia punya potensi iya. Buah yang secara genetika bagus, rasanya manis, warnanya menarik, jika dipetik lebih cepat dari waktunya, dia pasti kelihatan pucat, rasanya asam meski sudah dimatangkan lewat proses karbitan. AHY kurang lebih sama, ia terlahir dari genetika yang bagus, Bapaknya Jenderal, ibunya putri seorang Jenderal, sekoalhnya bagus.

Tapi ada yang terlupa, belum saatnya dia di panen. Buah hasil karbitan bisa saja, bagus kulitnya, kuning menarik, selera kita tergoda, tetapi dalamnya kita bisa pastikan rasanya kurang manis justru bisa hambar, mudah busuk dan gampang berubah warna, cepat kena jamur dan kita gampang dan tidak berpikir panjang membuangnya ke tempat sampah.

SBY berpikir, Dia bisa menggembleng AHY, selagi masih punya kekuatan, selagi masih ada waktu buat dia mengantarkan AHY ke puncak tertinggi, lalu dia putuskanlah AHY kini saatnya. Dalam soal ini, kita tak pernah ragu kemampuan SBY untuk memoles, membuat AHY itu bagus di luar, tetapi jangan lupa, buah tidak pernah kita rasakan bagian kulitnya tetapi kita memakan bagian dalamnya.

Mencari pemimpin juga begitu, bisa saja demokrat bersama SBY berhasil mengangkat AHY ke survey tertinggi dengan berbagai macam konsultan politiknya, tetapi SBY lupa bahwa semua ada prosesnya. Rakyat bisa saja dibenaknya bahwa AHY itu bagus, muda dan bisa dijadikan pemimpin masa depan serta idola millenial.

Kita tidak boleh lupa, itu bagian luarnya saja. Yang kita butuhkan dari seorang pemimpin kan bagian dalamnya. Kemampuannya, integritasnya, daya juangnya untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa ini.

Bangsa ini memiliki masalah yang sangat kompleks. Mulai dari ideologi, ekonomi, sosial budaya, pertahanan kemananan, tatanan politiknya penuh dengan dinasti dan koncoisme. Akademisi nya tidak profesional melihat permasalahan, tetapi tergantung kepada siapa yang membayar. Generasi muda nya terjangkit penyakit pengkomsunsi teknologi tanpa pernah berpikir untuk memproduksi, sehingga masa depan kita tergantung dari luar.

Kita teriak teriak semua diambil asing, padahal kita yang tidak siap. Ada anak muda seperti Ahy berpotensi bagus, tetapi ada petani seperti SBY tidak sabar untuk memetiknya. Saya takut, AHY cepat “membusuk” karena petaninya tidak sabar.

Ketidaksabaran SBY memang sudah banyak kita lihat dari berbagai aspek, termasuk Ibas Yudhoyono adalah buah yang belum layak dijual, tetapi selama ini sudah dijajakan di DPR sebagai ketua fraksi, akibatnya fraksi tidak produktif.

Agus H Yudhoyono seharusnya dibiarkan SBY matang pohon, lalu suatu ketika di petik. AHY yang matang pohon, meskipun dia tidak sehebat SBY nanti, tetapi rasa AHY nya pasti terasa. Kalau sekarang, karena buah ini buah karbitan. Apapun yang dilakukan oleh AHY pastinya rasanya masih rasa SBY.

Lihatlah misalnya, koalisi yang akan dibangun Demokrat bersama Gerindra, PKS dan PAN saat ini, rasa SBY nya sangat kental. SBY masih ingin mendominasi, meski dia tidak mengakuinya. Lihatlah misalnya pertemuan SBY bersama Prabowo di Kuningan. Cara konfrensi pers nya, SBY style banget. Lalu kapan matangnya AHY? Kalau saja SBY masih selalu yang terdepan?

AHY bisa saja punya sesuatu untuk dijual, tetapi dominasi SBY tidak akan pernah membuat talenta AHY muncul. Buah boleh saja dipanen lebih cepat lalu dikarbit, tetapi itu untuk konsumsi pasar yang murah saja. Buah yang matang pohon disajikan menjadi hidangan rakyat yang makmur. Apakah kita mau menjadi rakyat yang makmur. Makanlah buah yang matang pohon.

Tahun 2019 kemungkinan hanya 2 pasang buah yang ditawarkan. Mari kita pilih buah Jokowi dan pasangannya. Buah yang matang pohon, yang diperoleh dari proses kesabaran, yang lahir dari proses pengalaman dan besar karena keuletan hati dan kerja keras. Buah yang matang pohon, dia sudah tahan uji dari hama dan penyakit, dia besar oleh tempaan hujan dan teriknya mentari.

Buah yang matang pohon, kan membuat kita puas memakannya, sebab dia akan bermanfaat bagi tubuh kita. Buah yang dikarbit, pasti bisa dikomsumsi, tetapi dia gampang membusuk, rasanya hambar, bahkan banyak yang asam.

Cara kita menyukai buah akan menggambarkan selera kita sebenarnya! Indonesia, pilihlah nanti buah yang matang pohon.

Salam kompasiana!

 

Subscribe

independen dan terpercaya

No Responses

Comments are closed.