Rizal Ramli: Indonesia Bisa Jatuh dalam Krisis Seperti Dialami Turki

Rizal Ramli: Indonesia Bisa Jatuh dalam Krisis Seperti Dialami Turki
Rizal Ramli. (Foto: Ist)

WARTANASIONAL.NET – Enam bulan lalu, Rizal Ramli sudah memperingatkan bahwa “badan ekonomi Indonesia sedang sakit, antibody kita lagi lemah”.

“Tim Ekonomi Pak @jokowi sibuk bantah-bantah Rizal Ramli. Soal utang kepedean abis. Ndak ngerti klo Rupiah anjlok, semua indikator-indiktor utang berubah cepat. Kena virus sedikit bisa cepat sakit. Tim ekonomi pak Jokowi tidak memiliki kemampuan  antisipatif.  Bisanya hanya ‪menunggu Godot,” ujar Rizal Ramli.

Paul Krugman mengatakan bahwa Indonesia jatuh dalam krisis finansial tahun 90-an dengan hutang mencapai kurang dari 60 % dari GDP, hampir sama dengan yang dialami oleh Turki tahun ini.

Seperti diketahui, mata uang Turki, Lira anjlok membuat investor khawatir sehingga menjual mata uang negara berkembang lainnya.

Mata uang Lira koreksi lebih dari 40 persen sepanjang 2018 karena kekhawatiran terhadap penanganan ekonomi Turki yang overheating dan perselisihan dengan Amerika Serikat (AS).

Namun, kekhawatiran aksi jual di Lira telah memukul aset pasar di seluruh dunia termasuk mendorong mata uang negara berkembang ke posisi terendah.

Mata uang Afrika Selatan yaitu Rand juga paling terkena dampaknya. Rand turun lebih dari 10 persen hingga kembali pulih ke posisi 14,51 terhadap dolar AS.

Selain itu, Rupee, India melemah ke titik terendah sepanjang masa di posisi 69,62 per dolar AS pada awal perdagangan. Demikian mengutip laman CNBC, Senin (13/8/2018).

Reuters juga melaporkan, rupiah sentuh level terendah hampir tiga tahun hingga akhir Bank Indonesia (BI) intervensi untuk memperkuat rupiah.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah menguat ke posisi 14.608 pada Senin sore. Akan tetapi, rupiah cenderung melemah dibandingkan pembukaan di posisi 14.579 terhadap dolar Amerika Serikat. Sepanjang Senin pekan ini, rupiah bergerak di posisi 14.544-14.617 per dolar AS.

VP Sales and Marketing PT Ashmore Assets Management Indonesia, Angganata Sebastian menuturkan, tekanan terhadap rupiah juga didorong dari defisit neraca transaksi berjalan mencapai USD 8 miliar atau tiga persen terhadap produk domestik brutp (PDB) pada kuartal II 2018. Angka itu lebih tinggi dari harapan pelaku pasar sekitar USD 7,8 miliar.

Meski demikian, ia optimistis neraca transaksi berjalan akan membaik. Hal itu karena defisit neraca transaksi berjalan melebar pada kuartal II 2018 didorong faktor musiman.

“Alasan yang mendasari adalah Juni memang konsumsi relatif tinggi secara ada Ramadan dan Lebaran. Ini membuat impor pasti naik. Selain itu, Juni biasa ada dividen repatriasi yang membuat permintaan terhadap dolar Amerika Serikat juga tinggi,” ujar Angganata seperti dikutip Liputan6.com.

Angganata optimistis rupiah dapat kembali menguat ke depan. Hal itu mengingat nilai tukar rupiah melemah karena dolar AS yang menguat bukan faktor fundamental.

Hal senada dikatakan Head of Equity PT Samuel International Harry Su. Defisit transaksi berjalan capai tiga persen pada kuartal II 2018 menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

“Biasanya fund managers asing ingin defisit transaksi berjalan harus di bawah dua persen. Lebih bagus lagi kalau surplus,” kata dia.

Ia menambahkan, untuk atasi defisit neraca transaksi berjalan harus menekan impor.  “Ekonomi harus melamban sehingga impor menurun,” ujarnya.

 

Subscribe

independen dan terpercaya

No Responses

Comments are closed.