Rizal Ramli: Manajemen Ekonomi Makro Ala Tensoplast

Rizal Ramli: Manajemen Ekonomi Makro Ala Tensoplast

WARTANASIONAL.NET – Pemerintah semestinya meninggalkan kebijakan tambal sulam yang dibuat untuk merespons pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat akhir-akhir ini. Aneka kebijakan tergopoh-gopoh ini bisa membuat rupiah makin jeblok dan malah mendekatkan negara ke jurang krisis keuangan.

Ekonom senior dan mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli mengatkaan, managemen ekonomi makro selama ini seperti menempel luka ala obat tensoplast. “Managemen Ekonomi Makro ala tensoplast,” ujarn Rizal di Jakarta, Minggu (2/8/2018).

Rizal mengatakan bahwa dirinya sudah mengingatkan jauh-jauh hari tentang bahaya rupiah yang anjok. “Itu sudah dibahas sejak akhir tahun 2017, tentang bahaya peningkatan defisit current accounts,” ujarnya.

Namun, kata Rizal Ramli, para menteri Kabinet Indonesia Bekerja Jokowi malah sibuk membantah hal tersebut. “Menteri-menteri ekonomi @jokowi sibuk bantah-membantah bahwa ‘semua aman terkendali’,” ujarnya.

Usaha menahan laju penurunan rupiah memang tugas Bank Indonesia. Tapi pemerintah juga perlu menjalankan fungsinya agar mata uang nasional ini terjaga.

Gubernur Bank Indonesia sejauh ini berusaha menenangkan pasar. Ia mengatakan tekanan terhadap rupiah tak seperti lira di Turki. Penurunan nilai rupiah pada 2018 hanya 7 persen. Depresiasi itu lebih rendah dibandingkan dengan negara seperti Afrika Selatan, yang mencapai 13,7 persen, dan Brasil, 18,2 persen. Apalagi bila dibandingkan dengan Argentina dan Turki, yang nilai mata uangnya terhadap dolar melorot hingga mencapai 40 persen sepanjang tahun ini.

Meski begitu, bahaya tetap besar melihat angka defisit transaksi berjalan pemerintah. Pada semester pertama 2018, defisit mencapai US$ 13,7 miliar. Bank Indonesia memperkirakan angka defisit 2018 bisa mencapai US$ 25 miliar. Angka ini jauh lebih tinggi ketimbang defisit tahun lalu, US$ 17,3 miliar.

 

Subscribe

independen dan terpercaya

No Responses

Comments are closed.