Ada Apa dengan Air Bersih Labuanbajo

Ada Apa dengan Air Bersih Labuanbajo
Akibat Kemarau Panjang, air dari PDAM kurang lancar, masyarakat terpaksa mengantri dan sabar menunggu giliran.

Labuanbajo, WARTANASIONAL.NET – Lebih kurang enam bulan belakangan ini warga Labuanbajo di ujung Barat Flores mengalami kekurangan air bersih dan terpaksa membeli air sumur berkapur dan/ dari mobil tangky yang mengambil dari reservoar PDAM dengan harga berfariasi sesuai volume pesanan dan kondisi lapangan hari itu.

Kondisi ini terjadi akibat diterpa kemarau panjang, tapi juga diduga ada ‘permainan’ pihak PDAM yang ingin meraup keuntungan dengan memanfaatkan momen ini.

Hal tersebut disampaikan Benyamin Muin tokoh masyarakat Kaper, Doni Parera pelaku usaha dan Rm. Fikjen, Robert Pelita, tokoh agama kepada WARTANASIONAL.NET pada Jumat (14/09) dari Labuanbajo.

Menurut Muin, masalah ini telah diprotes warga hingga ke pihak Derektur Utama PDAM Aurelius namun tidak ada solusi dengan alasan terjadi kekeringan di sejumlah sumber mata air. Akan tetapi kekeringan ini tidak bisa menjadi alasan tunggal karena tangky penjual air tidak hanya mengambil air dari sumber lain tetapi juga dari reservoar penampungan PDAM. “Artinya PDAM lebih mementingkan bisnis untuk cari keuntungan daripada pelayanan kepada masyarakat”, ujar Muin.

Hal senada disampaikan Doni Parera dan Romo Fikjen yang menyatakan sangat menyayangkan sikap PDAM yang lebih utamakan usnsur bisnis daripada melayani masyarakat yang seharusnya menjadi tugas PDAM. Karena selain masyarakat yang bukan pelanggan PDAM, juga para pelanggan PDAM terpaksa harus membeli air dari mobil tangky PDAM.

“Sangat disayangkan karena PDAM lebih pentingkan unsur bisnisnya daripada tugas pelayanan. Karena selain mengambil air dari Reservoar penampungan PDAM yang harusnya dialirkan kepada warga, tapi juga mengambilnya dengan harga murah sekitar Rp. 20.000-30,.000 per tangki tapi menjualnya dengan harga antara 75.000- 100 ribu rupiah”, ungkap Doni dan Pelita.

Dan anehnya, kata Doni, air tidak selalu mengalir karena debitnya kurang akibat musim panas berkepanjangan tapi untuk para pembeli air selalu ada dan lancar. Sementara tidak ada bukti transaksi baik berupa notta maupun kwitansi sehingga dirinya ragu apakah duit hasil jualan itu masuk kas daerah atau tidak.

Senada dengan Doni Muin mengatakan, masyarakat mempertanyakan jika PDAM mungkin saja menjalankan fungsi bisnisnya mencari keuntungan demi keberlangsungan usaha adalah hal wajar. Akan tetapi menjadi persoalan adalah semua penjualan itu tidak disertai bukti bayar entah berupa kwitansi atau notta. “Lalu duit itu larinya ke mana dan bagaimana mempertanggungjawabkannya?”, Tanya Muin.

Terhadap keluhan dan pengaduan masyarakat tersebut, dari Kupang, Dirut PDAM Aurelius yang dihubungi WARTANASIONAL.NET Sabtu, (15/09) membenarkan adanya penjualan air bersih oleh PDAM di Labuanbajo. Karena menurut dia, PDAM adalah badan usaha milik daerah yang memang berorientasi profit jadi seharusnya tidak melakukan tindakan di luar tupoksi.

Mobil Pic Up penjual air bersih Labuanbajo

Kata dia, ada 6 mobil Pic up milik PDAM dengan antara 1.100 lt – 1.500 yang dioperasikan PDAM untuk jualan air bagi yang bukan pelanggan dan pelanggan yang berkebutuhan di atas standar kebutuhan dasar.

Akan tetapi, jelas Dirut, pelayanan terhadap para pelanggan yang terdaftar tetap menjadi tugas utama PDAM, juga termasuk pelayanan bersifat sosial namun dengan mematuhi semua syarat dan ketentuan yang berlaku. Karena yang diutamakan adalah kebutuhan dasar air bersih masyarakat yakni 60 liter per orang per hari. Sementara kebutuhan ekstra seperti cuci kandang babi, siram tanaman dll akan bisa dipenuhi namun harus diatur lewat mekanisme pendaftaran, bukan main serobot.

Sedangkan terkait bukti pembayaran, kata Aurelius, masyarakat tidak perlu kuatir karena dari ke 6 mobil PDAM yang menjual air itu selalu menyetor ke kas perusahaan (PDAM) pada setiap akhir bulan. (bernad)

Subscribe

independen dan terpercaya

No Responses

Comments are closed.