Peduli Korban Gempa Sulteng, Musikus Kolintang Terus Beraksi

Peduli Korban Gempa Sulteng, Musikus Kolintang Terus Beraksi
Ratna Dewi Djoewita Boediono, Ketua Komite Seni Budaya LIONS Club. Bebas berpikir dan berekspresi dalam membela negara.

Jakarta, WARTANASIONAL.NET – Dalam rangka membantu meringankan beban masyarakat Sulawesi Tengah yang terkena musibah gempa bumi dan tsunami beberapa waktu lalu, para pencinta music Kolintang dikerahkan untuk mengunjuk kebolehannya guna menggalang dana sebagai ungkapan rasa kemanusiaan sebangsa dan setanah air.

Hal tersebut disampaikan Ibu Ratna Dewi Djoewita Boediono dari LIONS Club di selah-selah acara bertemakan ‘Torang Semua Basaudara’ di Now Market, Mall of Indonesia, Kelapa Gading Jakarta Utara, Minggu, (21/10/2018).

“Gagasan ini timbul olehkarena kami sangat merasakan, bencana yang sangat dashat dialami oleh warga di Sulawesi Tengah. Kami prihatin dan ingin berbuat sesuatu. Kebetulan ibu-ibu ini adalah pencinta seni musik etnik kolintang sehingga kami berkumpul untuk bebrbuat sesuatu untuk membantu masyarakat yang sedang terkena bencana di Sulawesi Tengah. Maka hari ini berkumpulah kami memperlihatkan kebolehan kami sambil juga memberikan sumbangan sekuat tenaga kami bagi masyarakat di Sulteng”, katanya.

Senada dengan Ratna Dewi, Ferdinand Soputan, Ketua Panitia penggalangan dana untuk masyarakat Sulawesi Tengah mengatakan bahwa kegiatan ini dilakukan karena terdorong oleh rasa peduli sebagai sesama manusia terhadap masyarakat Sulawesi Tengah yang terkena bencana gempa dan tsunami yang menelan ribuan korban. Untuk itu, kata Ferdinan, tema yang diangkat adalah ‘Torang Semua Basaudara’. “Mereka adalah saudara kita yang lagi mengalami musibah seperti itu tentu membutuhkan ulurtran tangan kita sebagai saudara sebangsa dan setanah air”, jelas Ferdinan seraya menambahkan ada 20 Tim pemain musik Kolintang yang diundang ditambah tiga tim penari.

Lebih lanjut Ratna Dewi selaku Ketua Komite Seni Budaya dari LIONS Club menyatakan bahwa membantu sesama korban dengan cara seperti ini bukan baru pertama kali untuk kelompok ini. Melalui LIONS Club pihaknya sudah berkeliling ke berbagai negara dan benua baik Asia, Afrika pun Eropah tidak sekedar show tapi juga melakukan tindakan kemanusiaan sesuai marwah kelompok.

Menurut Ratna, itulah cara mereka untuk membela dan mempertahankan bangsa Indonesia sebagai warga bangsa yang bebas dan merdeka. Atas misi besar ini maka grup ini diberi nama LIONS yang artinya sebagai warga Negara Indonesia para anggota memiliki kebebsan berpikir dan bertindak untuk membela dan mempertahankan Negara Kesatuan RI. “LIONS terdiri dari L= Liberty (Kebeasan berpikir dan bertindak), I=Intelegensia (Kemampuan berpikir/nalar) yang berarti kebebasan mengemukakan apa yang kita pikirkan. Dan ONS = Our, Nations dan Safety artinya untuk keselamatan Negara”, terangnya.

Sekalipun demikian, lanjut Dewi, LIONS yang sudah berusia 102 tahun ini tidak berpolitik dan tidak membedakan suku agama dan ras, kaya miskin, pejabat atau rakyat biasa. Berdiri sama tinggi duduk sama rendah. “Misalanya Jokowi mau jadi anggota LIONS maka kita tidak menyebut ‘LIONS Jokowi’. Kita semau sama sebagai anggota LIONS”, ujar Dewi.

Sebab LIONS tidak didirikan atas dorongan atau tujuan politik melainkan terinspirasi oleh seseorang di Amerika lebih dari 100 tahun lalu di mana orang itu ingin mengajak warganegara seluruh dunia untuk saling membantu satu dengan yang lain, apakah karena dalam kondisi ada bencana atau ada cacad dalam badannya. “Pokoknya segala sesuatu yang berkaitan dengan kemanusiaan. Baik karena menderita cacat tertentu atau terkena musibah bencana yang berkaitan dengan masalah kemanusiaan, tidak ada unsur politik”, kata Dewi.

Karena Kolintang sebagai musik tradisional telah mengantar kelompok ini ke seantero negara dan benua maka sebagai ketua komite seni budaya, Ratna Dewi merasa berkewajiban untuk memperjuangkan agar Musik Tradisional Kolintang dapat diakui sebagai alat musik dunia oleh UNESCO. “Saat ini sebagai Ketua Komite Seni Budaya, saya sedang burjuang agar Kolintang kayu menjadi bagian dari alat musik kayu yang diakui UNESCO; sebagai peninggalan yang khas dari Indonesia dan National heritage of Indonesia seperti angklung yang sudah diakui UNESCO pada 10 tahun lalu” tutup Dewi. (bernad)

Subscribe

independen dan terpercaya

No Responses

Comments are closed.